1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Sutopo, Sang Informan Bencana Itu Kini Telah Berpulang

Inonesia kembali berduka, Kepala Pusat Data Informasi dan Hubungan Masyarakat (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho berpulang ke Rahmatullah setelah sempat berjuang melawan penyakit kanker paru-paru stadium 4B yang dideritanya sejak akhir 2017.

Kabar duka tersebut disampaikan oleh istri Sutopo, Retno Utami Yulianingsih dari Rumah Sakit St. Stamford Modern Cancer Hospital, Guangzhou, Tiongkok, Minggu (7/7).

Putra dari pasangan Suharsono Harsosaputro dan Sri Roosmandari ini berpulang sekitar pukul 02.20 waktu Guangzhou atau sekitar pukul  01.20 WIB. Selain meninggalkan seorang istri, Sutopo juga meninggalkan dua orang putra, yakni; Muhammad Ivanka Rizaldy Nugroho dan Muhammad Aufa Wikantyasa Nugroho.

Sesuai rencana, jenazah akan dipulangkan ke Tanah Air dan dijadwalkan tiba pada hari Minggu 7 Juli pukul 20.30 WIB di Bandara Soekarno Hatta untuk disemayamkan di rumah duka di Raffles Hill I-6 No 15 Cibubur. Kemudian jenazah akan diterbangkan ke Solo melalui Bandara Soetta pada hari Senin 8 Juli pukul 05.20 WIB untuk selanjutnya dimakamkan di tempat kelahirannya di Boyolali.

Kepala BNPB, Doni Monardo dalam rilisnya memerintahkan kepada seluruh staf untuk menyiapkan segala sesuatunya terkait pemakaman.

Doni juga meminta secara khusus agar penerimaan jenazah sang Pahlawan Kemanusiaan itu dapat diproses dengan pemakaman menggunakan tradisi kedinasan BNPB dan juga melibatkan unsur BPBD Boyolali dan Jawa Tengah.

“Pak Topo adalah Pahlawan Kemanusiaan yang telah ikut membesarkan nama BNPB sejak dibentuk tahun 2008. Pak Topo juga telah mengharumkan nama Indonesia dalam sejumlah karyanya antara lain Penghargaan tertinggi yang diterima Pemerintah RI di Baku Azerbaijan dari PBB di Bidang Inovasi Kebencanaan melaui “Petabencana”, ungkap Doni.

Sutopo meninggalkan Tanah Air menuju Guangzhou, Tiongkok untuk menjalani pengobatan sejak 15 Juni 2019 lalu. Menurut dokter, waktu pengobatannya yang dijalani Sutopo akan memakan waktu selama 30 hari. Akan tetap Sutopo telah dipanggil terlebih dahulu sebelum menyelesaikan pengobatannya tersebut. Informasi terakhir, kanker yang dideritanya telah menyebar ke otak, tulang dan beberapa organ vital tubuh lainnya.

Dalam menjalankan tugas sebagai Pahlawan Kemanusiaan dan informan andalan BNPB, Sutopo selalu tampil dengan penuh totalitas dalam memberikan informasi kebencanaan. Sebagai contoh ketika Indonesia dilanda bencana bertubi-tubi pada tahun 2018 seperti gempabumi beruntun di NTB, gempabumi disusul tsunami dan likuifaksi yang dahsyat di Sulawesi Tengah, dan tsunami senyap di Selat Sunda.

Bencana tersebut menimbulkan banyak jatuh korban jiwa dan dampak kerugian mencapai puluhan trilyun rupiah. Pada saat yang bersamaan sesungguhnya, pada tahun 2018 Sutopo juga sedang berjuang untuk tetap hidup di tengah sakit kanker paru-paru yang menggerogoti tubuhnya.

Selain berjuang melawan penyakit kanker stadium 4B, ia juga tidak menyerah melawan berbagai berita yang simpang siur dan informasi bohong alias hoaks terkait bencana melalui media sosial yang ia kelola secara pribadi dan tentunya melalui siaran pers bersama para awak media semasa hidup.

Selama proses pengobatan kemoterapi di Indonesia, Sutopo selalu langsung kembali ke kantor untuk memberikan konferensi pers. Di rumah sakit ia membuat siaran pers dan menyebarkan ke ribuan wartawan yang dikelolanya dalam grup WhatsApp bernama Wapena dan Medkom BNPB 1-7.

Sutopo juga sering menyelenggarakan konferensi pers di kediamannya ketika bencana terjadi pada akhir pekan. Di manapun dan kapanpun, Sutopo selalu hadir untuk mengabarkan informasi bencana di Tanah Air. Selain pernah melakukan wawancara dengan media di rumah, ia juga melayani awak media di halaman rumah sakit, di mall, atau bahkan pernah di TPU Pondok Rangon saat dirinya melayat, dan sebagainya

Media dan masyarakat selalu menunggu penjelasan Sutopo setiap saat terjadi bencana. Banyak media dan masyarakat yang membutuhkan  informasi secepat mungkin. Apa yang dilakukan Sutopo selama ini dengan memberikan pernyataan resmi dan menjelaskan kejadian dan penanganan bencana menjadi wujud bahwa negara hadir di tengah masyarakat dalam kondisi apapun.

Pria kelahiran Boyolali, 7 Oktober 1969 itu selalu mencintai pekerjaaannya sebagai juru bicara BNPB. Ia juga selalu bekerja dengan passion sehingga karirnya selalu meningkat dalam waktu yang singkat. Sutopo selalu berpesan dalam setiap kesempatan bahwa, “Kita jangan besar karena jabatan tapi dimana pun kita ditempatkan besarkan jabatan itu”.

Dedikasi Sutopo sebagai Aparatur Sipil Negara yang berprestasi telah dibuktikan dengan beberapa penghargaan yang ia raih sejak tahun 2012, baik untuk individu maupun untuk unit kerja yang dipimpinnya yaitu Pusat Data Informasi dan Humas BNPB. Meski hampir semua penghargaan itu atas nama pribadinnya, namun bagi Sutopo semua penghargaan itu ia didedikasikan untuk BNPB.

Beberapa penghargaan yang dicapai tahun 2018 dan 2019 adalah:

Tahun 2018:

1. The First Responder Asia, dari The Straith Times, Singapura
2. The Most Inspirational Aparat Sipil Negara (ASN), dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN RB)
3. Communicator of the Year 2018, dari Kementerian Komunikasi dan Informasi
4. Pegawai Sipil Negara (PNS) Inspiratif  Terfavorit 2018, dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi
(Kemen PAN RB
5. Outstanding Spokeperson of the Year 2018, dari dari Jakarta Foreign Correspondents Club (JFCC)
6. Pejabat Tinggi Pratama Teladan, dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN RB)
7. Tokoh Komunikasi Kemanusiaan, dari Kementerian Komunikasi dan Informasi
8. Human Initiative Award 2018, dari PKPU
9. Tokoh Teladan Anti Hoax, dari Mafindo
10. Humas Pemerintah Terbaik, dari Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas Indonesia)
11. Inspirator Terbaik Penyintas Kanker Paru, dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI)
12. IAGI Award 2018, dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI)
13. PNS Inspiratif 2018, dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN RB).

Tahun 2019:

1. Obsesion Award 2019 Kategori Best Bureaucrats, dari Obsession Media Group (OMG)
2. Tokoh Perubahan Republika 2018, dari Republika
3. Public Relation Berkinerja Cemerlang, dari Majalah PR Indonesia
4. Liputan6 Awards 2019 Kategori Pengabdian Masyarakat, dari SCTV

Kini, Sang informan andalan BNPB telah berpulang. Pahlawan Kemanusiaan itu akan selalu dikenang. Selamat jalan, Pak Topo. Beristirahatlah dengan tenang di SisiNya. Doa kami menyertaimu. (Marwan Azis)

 

Yayasan Skala Indonesia Luncurkan Buku Ekspedisi Palu-Koro

Yayasan Skala Indonesia  luncurkan buku Ekspedisi Palu-Koro yang berisi rekaman jejak kegempaan di Sulawesi, khususnya di Sulawesi Tengah yang dikenal Sesar Palu Koro.

Peluncuran dilaksanakan di Ruang Serbaguna Lantai 4 Perpustakaan Nasional Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (23/4/2019). Berbagai lapisan masyarakat turut hadir dalam peluncuran buku ini seperti Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB Lilik Kurniawan, wakil ketua IAGI Burhanudinnur, ACT Wahyu Novian, Humas IAGI Anif Purwanto, Seniman Palu Neni Muhidin,perwakilan Kedubes New Zealand Firlyana Purwanti dan masyarakat umum lainnya.

Dalam pengantar buku Ekspedisi Palu Koro, Ketua Tim Ekspedisi Palu-Koro, Trinimalaningrum menceritakan, Ekspedisi Palu-Koro, pertama kali digagas oleh dua sahabat saat bertemu dalam acara persiapan pembentukan Forum Pengurangan Resiko Bencana (Forum PRB) tahun 2011 di Palu, Neni Muhidin, aktivis Palu dan Trinimalaningrum yang saat itu menjabat Sekjen Platform Nasional Untuk Pengurangan Resiko Bencana (Planas).

Dalam pertemuan tersebut, salah satu yang dibahas adalah soal Sesar Palu-Koro yang membentang mulai dari Teluk Palu sampai ke Teluk Bone.  “Walaupun hanya disinggung sedikit, tetapi informasi tersebut membuat kami penasaran, maka bincang tentang Sesar Palu-Koro terus berlanjut di warung kopi,”

“Ketika saya kembali ke Jakarta, ketertarikan akan sesar Palu-Koro tidak berhenti, informasi dikumpulkan ternyata dokumen tentang sesar Palu-Kolo tidak cukup banyak, berbeda dengan sesar Smangko di Sumatera, yang hasil penelitiannya tersebar di berbagai lembaga,”tuturnya.

Rini panggilan akrab Trinimalaningrum mengaku terus menjalin komunikasi poros Jakarta-Palu dengan Neni dan rekan-rekan lainnya, rasa penasaran, keingin tahuan yang sangat kuat, akhirnya menelurkan ide untuk menyusuri sesar Palu-Koro.

“Mengapa kami tertarik untuk menyusuri sesar tersebut? Karena kami yakin ada banyak jejak sejarah bencana yang masih tersimpan dalam ingatan masyarakat dan itu perlu digali dan dituliskan, agar dapat menjadi bahan ajar untuk kita semua, bukannya untuk masyarakat Sulawesi Tengah,”jelasnya.

Tim Ekspedesi Sesar Palu-Koro yang terdiri atas Perkumpulan Skala, IAGI (Ikatan Ahli Geolog Indonesia), Aksi Cepat Tanggap (ACT), Universitas Tadulako, Forum PRB Sulteng dan Nemu Buku mulai melakukan perjalanan perdana menyusuri  wilayah yang diperkirakan dilalui sesar Palu-Koro yaitu wilayah daratan tinggi, pegunungan, dan ke Taman Nasional Lore Lindu yang dilaksanakan antara bulan Akhir Mei sampai Juli 2017.

Kemudian perjalanan berikutnya dilanjutkan menyusuri wilayah pantai yang pernah mengalami gempa dan diikuti peristiwa tsunami di Pantai Mapage, Talise dan Wani, dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2018.

“Hasil temuan kami presentasikan ke berbagai pihak seperti Gubernur Sulteng dan aparat terkait di Palu pada  tanggal 31  Juli 2018, termasuk BPBD, Dinas Pariwisata, Dinas PU. Kami juga membagi hasil temuan ke BNPB, KLHK, Kementerian Maritim, Pak Sudarto Mangkusubroto, Watimpres yang memberikan perhatian terhadap sesar aktif ini, bahkan Pak Darto-lah yang memfasilitasi tim untuk bertemu dengan Kementerian-Kementerian yang terkait bencana,”ungkapnya.

Founder DisasterChannel.co ini menambahkan, saat proses menulis laporan hasil ekspedisi, pihaknya banyak menemukan kejanggalan-kejanggalan, salah satunya, dokumen rencana kontijensi kota Palu untuk gempa dan tsunami, tidak ada di BPBD, padahal rencana kontijensi inilah yang akan memberika panduan ketika terjadi bencana.

Menurut sumber tim ekspedisi, dokumen renkon disiapkan tahun 2012, saat program SCDRR-UNDP dilaksanakan di Sulawesi Tengah. Saat itupun latihan simulasi mulai dilakukan, tetapi hanya ketika program dilaksanakan, setelah itu tidak ada lagi program simulasi.

“Dan kekuatiran kami, tim ekspedisi seperti nyata, gempa datang seperti tamu tidak diundang, belum selesai menuliskan laporan serta mengabarkannya ke berbagai pihak, gempa, tsunami dan likuifaksi terjadi, tepat pada tanggal 28 September 2018, ketika tim kami sedang menyiapkan laporan, penulisan buku, editing film. Kami memang terhenyak, terdiam dan rasa bersalah yang menjadi satu, saat itu yang terpikir oleh kami, mengapa saat kami bertemu Gubernur Sulteng tidak memaksa dengan berbagai cara agar Gubernur mau dengan sigap melakukan upaya kesiap-siaagan,”terangnya.

Kehadiran buku Ekspedisi Palu-Koro ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak.

“Selamat kepada tim ekspedisi Palu-Koro. Kita semua sepakat hasil dari ekspedisi ini bukan akhir dari satu ekspedisi yang kita harapkan. Masih banyak pr-pr kedepan yang saya yakin akan kita ungkap. Kita menganggap ini adalah salah satu literasi kebencanaan karena orang-orang bencana sangat banyak di Indonesia.”kata Direktur Pemberdayaan Masyarakat BNPB, Lilik Kurniawan saat menyampaikan sambutan peluncuran buku Ekspedisi Palu-Koro.

Ia berharap semua aktifitas seperti Ekspedisi Palu-Koro akan didukung oleh negara Indonesia sehingga ilmu-ilmu kebencaan bisa didapatkan dengan mudah di negara ini.(Santi)

 

Selamat Jalan ke Yang Maha Kuasa Rovicky Dwi Putrohari: Pakdhe Pendongeng Geologi

Dalam lingkup geolog, nama Rovicky Dwi Putrohari sudah tidak asing lagi. Terlebih beliau pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) tahun 2012-2014. Bagi masyarakat luas, dia dikenal sebagai Pakdhe yang gemar mendongeng melalui blognya. Blog Dongeng Geologi meliputi soal energi, kebencanaan dan lingkungan. Blog ini sudah ada sejak internet baru popular tahun 1998.

Dalam wawancaranya pada Kompas (2014), Rovicky menceritakan bahwa dia sudah gemar menulis sejak kecil dan mengirimkannya ke koran lokal di Jogyakarta, “Kalau tulisan dikembalikan diberi koreksi oleh redakturnya. Dari situ saya belajar menulis,” kata dia.

Rovicky Dwi Putrohari lahir di Jogjakarta pada 12 Maret 1963. Lulus dari fakultas teknik geologi Universitas Gajah Mada tahun 1983, Rovicky telah melanglang buana di dunia perminyakan. Di masa perkuliahan, kegemaran menulisnya sempat tersendat karena kesibukannya praktikum dan mendaki gunung.

Rovicky melihat media sosial sebagai sarana diskusi yang menarik dan kreatif. Blognya kerap menjadi ruang diskusi para pembaca. Bahasa yang ringan sehingga tulisannya digemari oleh para pembaca. Bahasa geologi yang rumit dia bahasakan menjadi dongeng yang mudah ditangkap oleh masyarakat awan yang ingin mengetahui geologi lebih lanjut.

Pada saat terjadi bencana, blognya dikunjungi lebih dari ribuan pembaca. Pada tahun 2004 saat terjadi tsunami Aceh, blognya dijadikan sebagai referensi utama.

Hari ini, Senin (4/03/2019) pukul 02.05 WIB, Rovicky Dwi Putrohadi telah berpulang ke Yang Maha Kuasa. Pakdhe sang pendongeng telah menjadi sosok yang tak akan lepas dari dongeng geologi. Selamat jalan, Pakdhe. (ono)

 

SEGENAP KELUARGA BESAR PERKUMPULAN SKALA 

Mengucapkan :

 TURUT BERDUKA CITA 

Atas Meninggalnya Sang Pendongeng Geologi 

PAKDHE ROVICKY DWI PUTROHADI  

Semoga beliau ditempatkan di surganya Tuhan YME, dan keluarga yang ditinggakan diberikan ketabahan dan keikhlasan

 

 

 

 

SKALA dan CSR Sampoerna Untuk Indonesia Lakukan Pemulihan di Lombok

MATARAM –  Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak memiliki pulau dan gunung berapi aktif yang setiap tahunnya dapat menimbulkan potensi resiko bencana. Kita hidup di negeri cincin api, dimana 295 sesar aktif dan gunung berapi aktif menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Indonesia.

Tahun 2018 menjadi catatan penting bagi masyarakat di Indonesia, secara berturut-turut Indonesia mengalami bencana gempa di Lombok, menelan korban 569 orang meninggal dunia, 74.500 keluarga kehilangan tempat tinggal, dan mengakibatkan kerugian material sebesar Rp 12 triliun.

Belum selesai persoalan di Lombok, gempa, tsunami dan likuifaksi menimpa Palu, Sigi dan Donggala, 2.000 lebih korban meninggal ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal, serta secara ekonomi Sulawesi Tengah mengalami kerugian Rp 22 triluan. Kemudian, pembangunan belum dimulai di Palu, Selat Sunda dan longsor di Sukabumi terjadi dan meninggalkan berbagai persoalan dalam penanangganannya.

Sampai saat ini upaya pembangunan kembali masih dilakukan oleh pemerintah, baik yang di level nasional maupun daerah. Menurut data BNPB dalam Kaleidoskop 2018, yang dilansir pada Desember 2018, menyebutkan bahwa pendanaan yang dibutuhkan untuk pembangunan kembali Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah, pemerintah membutuhkan sekitar Rp 34 triliun. Pemerintah sendiri akan menyiapkan sekitar Rp 6 triliun. Sementara dana dari belanja non K/L (Kementrian/Lembaga) sebesar Rp 5 triliun dan dana dari pooling fund (konsorsium pendanaan) sebesar Rp 1 Triliun. Sehingga dana untuk pembangunan kembali wilayah-wilayah terdampak masih ada kekurangan sebesar Rp 15 triliun.

Tentu kita semua menyadari bahwa dibutuhkan berbagai strategi dalam pengembangan pembangunan berdasarkan potensi bencana yang ada di wilayah harus menjadi pertimbangan mendasar, agar tidak terjadi lagi korban-korban dan kerugian secara ekonomi. Untuk itu, PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) di bawah payung program tanggung jawab sosial dan lingkungan “Sampoerna Untuk Indonesia” (SUI), bekerjasama dengan Perkumpulan SKALA dan dengan dukungan berbagai pihak, baik dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial NTB, IAGI NTB, Pemda Lombok Utara, Pemda Lombok Barat dan Lombok Timur telah melaksanakan program pengembangan pemulihan pasca gempa dengan kegiatan pemberian tenda untuk Kelompok Masyarakat Sadar Bencana, pembangunan fasilitas sanitasi air, fasilitas umum untuk kegiatan pemerintahan desa, fasilitas sosial untuk kegiatan pendidikan dan ekonomi masyarakat, serta pembentukan kelompok-kelompok siaga bencana di desa-desa.

Program pemulihan pasca bencana yang bertema Program Lombok Build Back Better berlangsung sejak bulan Oktober 2018 sampai dengan Januari 2019 ini bertujuan untuk menjawab beberapa kebutuhan yang dihadapi oleh desa-desa yang terdampak gempa pada bulan Juli lalu dan untuk membangkitkan lagi semangat warga dan mempersiapkan kegiatan perekonomian warga ke depannya.

Program pemulihan pasca bencana ini dilaksanakan di 4 desa, yaitu Obel-Obel, Selengen, Sandik dan Sembalum Bumbung. Program yang dikembangkan berdasarkan data yang direkomendasikan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten, bahwa di empat desa tersebut dampak yang cukup besar namun belum banyak pihak yang berpartisipasi dalam kegiatan pemulihan di area tersebut. Selain fasilitas yang diberikan, dilaksanakan juga pembentukan KSB (Kelompok Siaga Bencana) di desa-desa tersebut.

Nantinya KSB inilah yang akan menjadi penggerak untuk kesiap siagaan di setiap desa, di bawah pengarahan dan pengawasan desa tentunya. “Pendekatan yang agak berbeda yang kami tawarkan, dengan membuat kelompok-kelompok semacam ini, diharapkan dapat memberi dorongan untuk membangun desa lebih tangguh dan kami berharap dapat menyiapkan masyarakat untuk menjadi lebih sigap dan siap untuk bangkit kembali,” jelas Arif Triastika, selaku Regional Relation & CSR Manager PT HM Sampoerna Tbk.

Kerjasama berbagai pihak merupakan salah satu faktor penting dalam percepatan pemulihan pasca bencana. Pemerintah menyadari bahwa pembangunan juga memerlukan kontribusi dan sinergi dari berbagai pihak baik masyarakat, lembaga swadaya, akademisi, juga para pelaku usaha. Upaya mitigasi bencana pun juga perlu disebarluaskan secara masif bahkan hingga tingkat desa dengan beragam cara dan strategi untuk mencegah resiko bencana di kemudian hari.. Hal ini juga diupayakan oleh Perkumpulan Skala, melalui berbagai media yang ada, Skala menyebarkan berbagai panduan praktis dalam menghadapi bencana. Kerja sama antar elemen seperti yang dilakukan di Lombok ini sangat membantu kerja pemerintah dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi.(*/1)

 

Potret Empat Desa di Lombok Didampingi Tim Skala dan CSR Sampoerna Untuk Indonesia

ejumlah desa di Lombok menjadi prioritas pendampingan tim Skala bersama CSR Sampoerna Untuk Indonesia dalam menjalankan program Lombok Build Back Better.

Program ini sengaja dirancang sebagai bagian upaya partisipasi dalam masa recovery Lombok pasca gempa 6,4 SR Lombok pada 29 Juli 2018 dan gempa susulan 7 SR pada 5 Agustus 2018.

Sampoerna Untuk Indonesia dan Yayasan Skala Indonesia membangun fasilitas sosial dan fasilitas umum yang tersebar di beberapa daerah dampingan seperti Desa Sandik di Lombok Barat, Desa Selengan di Lombok Utara, Desa Obel-Obel dan Desa Sembalun Bumbung di Lombok Timur.

Pemilihan desa-desa dampingan didasari dengan daerah yang memiliki potensi longsor yang tinggi, khususnya longsor yang diakibatkan oleh gempa yang telah terjadi di Lombok. Seperti contoh di Desa Sandik sendiri terdapat titik-titik longsor di 16 Dusun.

Di Desa Selengan sendiri memiliki potensi longsor, gempa, kekeringan karena sesar Lombok terdapat di Desa ini.  “Setelah gempa air menghilang, muncul lumpur di hampir setiap rumah.” Kenang salah seorang warga Desa Selengan dalam satu kesempatan pertemuan dengan tim Skala.

Untuk di Desa Obel-Obel, topografi yang bersebelahan dengan bukit batu menyebabkan potensi longsor dengan material batu yang langsung menghadap ke rumah-rumah warga.

“Ada pemukiman baru, yaitu rumah-rumah yang pindah ke tempat lebih aman. Di sini kita membuat tower air untuk kebetuhan warga, toilet umum yang tersebar di dua titik dan Berugak untuk pertemuan maupun posyandu.” Jelas LO Desa Obel-Obel Mulyono.

Fasilitas sosial dan fasilitas umum ini sendiri terdiri dari berugak, mushola, toilet umum dan fasilitas sanitasi lainnya sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Fasilitas umum dan fasilitas sosial ini bisa dipergunakan masyarakat sebagai sarana pertemuan, posyandu dan juga pemamfaatan sanitasi dan air bersih. (Santi/Wan)

Ini Rekomedasi Hasil Seminar Membangun Ketahanan Lombok dari Desa di Mataram

Seminar bertajuk “Membangun Ketahanan Lombok dari Desa di Lombok Garden Hotel yang digelar Perkumpulan Skala bersama CSR Sampoerna Untuk Indonesia pada 9 Januari 2019 lalu, menghasilkan sejumlah catatan dan rekomendasi.

Seminar ini dihadiri oleh berbagai pihak, diantaranya BNPB, Dinas Sosial, BPBD, IAGI, Universitas Mataram dari FKIP, Universitas Indonesia, LSM Lokal, Nasional dan International serta media nasional dan lokal.

Pertemuan ini menghasilkan catatan penting dan rekomendasi, yang dapat menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam pengurangan resiko bencana di Indonesia.

Berikut catatan penting dan rekomendasi dari hasil pertemuan tersebut :

  1. Hasil riset harus digunakan sebagai dasar pengembangan pasca gempa di Lombok dan di wilayah-wilayah lain terdampak bencana
  2. Pemulihan harus tepat waktu, diperkirakan akan membutuhkan waktu 2 tahun agar Lombok kembali pulih seperti sediakala, sehingga delay waktu, akan memperlamat proses pemulihan
  3. Dari berbagai pengalaman, maka dibutuhkan kepemimpinan yang mumpuni atau leadership dalam menangani bencana. Leadership ini menjadi prasyarat dalam menanangani bencana baik di daerah maupun di tingkat nasional
  4. Informasi tentang potensi bencana di suatu wilayah agar mudah diakses oleh masyarakat, demikian juga dengan peta potensi serta peta tata ruang pun harus mudah di akses oleh masyarakat, agar masyarakat memahami potensi serta wilayahnya berada di wilayah yang memiliki potensi bencana
  5. Sinergi berbagai pihak menjadi sangat penting, karena bagaimanapun bencana bukan lagi menjadi urusan negara, tetapi menjadi kepedulian dan kepentingan semua pihak. Mengingat kerugian yang dialami oleh semua pihak
  6. Koordinasi antar berbagai pihak, baik di tingkat nasional, tingkat propinsi, dan tingkat lokal, dalam menanggani pra bencana, saat bencana dan pasca bencana. Hal ini menjadi penting agar tidak terjadi tumpang tindih
  7. Regulasi harus dibenahi, agar ego sectoral tidak lagi menjadi masalah
  8. Penting membuat kurikulum untuk pendidikan bencana, dan tidak hanya sekedar ada di dalam diskusi-diskusi, harus segera di eksekusi soal kurikulum kebencanaan dalam dunia pendidikan
  9. Bangunan-bangunan ramah lingkungan, menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat yang hidup di desa, bagaiman prinsip-prinsip kearifan lokal ini bisa diadopsi dalam proses pembangunan kembali wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana
  10. Soal pendanaan untuk tanggap darurat atau dana on call harusnya bisa dimaksimalkan agar kita memiliki modal social untuk menanggani bencana, tetapi dibutuhkan sinkronisasi sinergi antar berbagai lembaga, termasuk Lembaga usaha agar dampaknya lebih maksimal

“Seluruh hasil seminar baik berupa catatan dan rekomendasi ini, akan diserahkan kepada pihak terkait, terutama kepada BNPB. Semoga bermanfaat dalam pengurangan resiko bencana,” kata Direktur Perkumpulan Skala, Trinimalaningrum. (Wan)

Partners