1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Selamat Jalan ke Yang Maha Kuasa Rovicky Dwi Putrohari: Pakdhe Pendongeng Geologi

Dalam lingkup geolog, nama Rovicky Dwi Putrohari sudah tidak asing lagi. Terlebih beliau pernah menjabat sebagai Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) tahun 2012-2014. Bagi masyarakat luas, dia dikenal sebagai Pakdhe yang gemar mendongeng melalui blognya. Blog Dongeng Geologi meliputi soal energi, kebencanaan dan lingkungan. Blog ini sudah ada sejak internet baru popular tahun 1998.

Dalam wawancaranya pada Kompas (2014), Rovicky menceritakan bahwa dia sudah gemar menulis sejak kecil dan mengirimkannya ke koran lokal di Jogyakarta, “Kalau tulisan dikembalikan diberi koreksi oleh redakturnya. Dari situ saya belajar menulis,” kata dia.

Rovicky Dwi Putrohari lahir di Jogjakarta pada 12 Maret 1963. Lulus dari fakultas teknik geologi Universitas Gajah Mada tahun 1983, Rovicky telah melanglang buana di dunia perminyakan. Di masa perkuliahan, kegemaran menulisnya sempat tersendat karena kesibukannya praktikum dan mendaki gunung.

Rovicky melihat media sosial sebagai sarana diskusi yang menarik dan kreatif. Blognya kerap menjadi ruang diskusi para pembaca. Bahasa yang ringan sehingga tulisannya digemari oleh para pembaca. Bahasa geologi yang rumit dia bahasakan menjadi dongeng yang mudah ditangkap oleh masyarakat awan yang ingin mengetahui geologi lebih lanjut.

Pada saat terjadi bencana, blognya dikunjungi lebih dari ribuan pembaca. Pada tahun 2004 saat terjadi tsunami Aceh, blognya dijadikan sebagai referensi utama.

Hari ini, Senin (4/03/2019) pukul 02.05 WIB, Rovicky Dwi Putrohadi telah berpulang ke Yang Maha Kuasa. Pakdhe sang pendongeng telah menjadi sosok yang tak akan lepas dari dongeng geologi. Selamat jalan, Pakdhe. (ono)

 

SEGENAP KELUARGA BESAR PERKUMPULAN SKALA 

Mengucapkan :

 TURUT BERDUKA CITA 

Atas Meninggalnya Sang Pendongeng Geologi 

PAKDHE ROVICKY DWI PUTROHADI  

Semoga beliau ditempatkan di surganya Tuhan YME, dan keluarga yang ditinggakan diberikan ketabahan dan keikhlasan

 

 

 

 

SKALA dan CSR Sampoerna Untuk Indonesia Lakukan Pemulihan di Lombok

MATARAM –  Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak memiliki pulau dan gunung berapi aktif yang setiap tahunnya dapat menimbulkan potensi resiko bencana. Kita hidup di negeri cincin api, dimana 295 sesar aktif dan gunung berapi aktif menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Indonesia.

Tahun 2018 menjadi catatan penting bagi masyarakat di Indonesia, secara berturut-turut Indonesia mengalami bencana gempa di Lombok, menelan korban 569 orang meninggal dunia, 74.500 keluarga kehilangan tempat tinggal, dan mengakibatkan kerugian material sebesar Rp 12 triliun.

Belum selesai persoalan di Lombok, gempa, tsunami dan likuifaksi menimpa Palu, Sigi dan Donggala, 2.000 lebih korban meninggal ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal, serta secara ekonomi Sulawesi Tengah mengalami kerugian Rp 22 triluan. Kemudian, pembangunan belum dimulai di Palu, Selat Sunda dan longsor di Sukabumi terjadi dan meninggalkan berbagai persoalan dalam penanangganannya.

Sampai saat ini upaya pembangunan kembali masih dilakukan oleh pemerintah, baik yang di level nasional maupun daerah. Menurut data BNPB dalam Kaleidoskop 2018, yang dilansir pada Desember 2018, menyebutkan bahwa pendanaan yang dibutuhkan untuk pembangunan kembali Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah, pemerintah membutuhkan sekitar Rp 34 triliun. Pemerintah sendiri akan menyiapkan sekitar Rp 6 triliun. Sementara dana dari belanja non K/L (Kementrian/Lembaga) sebesar Rp 5 triliun dan dana dari pooling fund (konsorsium pendanaan) sebesar Rp 1 Triliun. Sehingga dana untuk pembangunan kembali wilayah-wilayah terdampak masih ada kekurangan sebesar Rp 15 triliun.

Tentu kita semua menyadari bahwa dibutuhkan berbagai strategi dalam pengembangan pembangunan berdasarkan potensi bencana yang ada di wilayah harus menjadi pertimbangan mendasar, agar tidak terjadi lagi korban-korban dan kerugian secara ekonomi. Untuk itu, PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) di bawah payung program tanggung jawab sosial dan lingkungan “Sampoerna Untuk Indonesia” (SUI), bekerjasama dengan Perkumpulan SKALA dan dengan dukungan berbagai pihak, baik dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial NTB, IAGI NTB, Pemda Lombok Utara, Pemda Lombok Barat dan Lombok Timur telah melaksanakan program pengembangan pemulihan pasca gempa dengan kegiatan pemberian tenda untuk Kelompok Masyarakat Sadar Bencana, pembangunan fasilitas sanitasi air, fasilitas umum untuk kegiatan pemerintahan desa, fasilitas sosial untuk kegiatan pendidikan dan ekonomi masyarakat, serta pembentukan kelompok-kelompok siaga bencana di desa-desa.

Program pemulihan pasca bencana yang bertema Program Lombok Build Back Better berlangsung sejak bulan Oktober 2018 sampai dengan Januari 2019 ini bertujuan untuk menjawab beberapa kebutuhan yang dihadapi oleh desa-desa yang terdampak gempa pada bulan Juli lalu dan untuk membangkitkan lagi semangat warga dan mempersiapkan kegiatan perekonomian warga ke depannya.

Program pemulihan pasca bencana ini dilaksanakan di 4 desa, yaitu Obel-Obel, Selengen, Sandik dan Sembalum Bumbung. Program yang dikembangkan berdasarkan data yang direkomendasikan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten, bahwa di empat desa tersebut dampak yang cukup besar namun belum banyak pihak yang berpartisipasi dalam kegiatan pemulihan di area tersebut. Selain fasilitas yang diberikan, dilaksanakan juga pembentukan KSB (Kelompok Siaga Bencana) di desa-desa tersebut.

Nantinya KSB inilah yang akan menjadi penggerak untuk kesiap siagaan di setiap desa, di bawah pengarahan dan pengawasan desa tentunya. “Pendekatan yang agak berbeda yang kami tawarkan, dengan membuat kelompok-kelompok semacam ini, diharapkan dapat memberi dorongan untuk membangun desa lebih tangguh dan kami berharap dapat menyiapkan masyarakat untuk menjadi lebih sigap dan siap untuk bangkit kembali,” jelas Arif Triastika, selaku Regional Relation & CSR Manager PT HM Sampoerna Tbk.

Kerjasama berbagai pihak merupakan salah satu faktor penting dalam percepatan pemulihan pasca bencana. Pemerintah menyadari bahwa pembangunan juga memerlukan kontribusi dan sinergi dari berbagai pihak baik masyarakat, lembaga swadaya, akademisi, juga para pelaku usaha. Upaya mitigasi bencana pun juga perlu disebarluaskan secara masif bahkan hingga tingkat desa dengan beragam cara dan strategi untuk mencegah resiko bencana di kemudian hari.. Hal ini juga diupayakan oleh Perkumpulan Skala, melalui berbagai media yang ada, Skala menyebarkan berbagai panduan praktis dalam menghadapi bencana. Kerja sama antar elemen seperti yang dilakukan di Lombok ini sangat membantu kerja pemerintah dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi.(*/1)

 

Potret Empat Desa di Lombok Didampingi Tim Skala dan CSR Sampoerna Untuk Indonesia

ejumlah desa di Lombok menjadi prioritas pendampingan tim Skala bersama CSR Sampoerna Untuk Indonesia dalam menjalankan program Lombok Build Back Better.

Program ini sengaja dirancang sebagai bagian upaya partisipasi dalam masa recovery Lombok pasca gempa 6,4 SR Lombok pada 29 Juli 2018 dan gempa susulan 7 SR pada 5 Agustus 2018.

Sampoerna Untuk Indonesia dan Yayasan Skala Indonesia membangun fasilitas sosial dan fasilitas umum yang tersebar di beberapa daerah dampingan seperti Desa Sandik di Lombok Barat, Desa Selengan di Lombok Utara, Desa Obel-Obel dan Desa Sembalun Bumbung di Lombok Timur.

Pemilihan desa-desa dampingan didasari dengan daerah yang memiliki potensi longsor yang tinggi, khususnya longsor yang diakibatkan oleh gempa yang telah terjadi di Lombok. Seperti contoh di Desa Sandik sendiri terdapat titik-titik longsor di 16 Dusun.

Di Desa Selengan sendiri memiliki potensi longsor, gempa, kekeringan karena sesar Lombok terdapat di Desa ini.  “Setelah gempa air menghilang, muncul lumpur di hampir setiap rumah.” Kenang salah seorang warga Desa Selengan dalam satu kesempatan pertemuan dengan tim Skala.

Untuk di Desa Obel-Obel, topografi yang bersebelahan dengan bukit batu menyebabkan potensi longsor dengan material batu yang langsung menghadap ke rumah-rumah warga.

“Ada pemukiman baru, yaitu rumah-rumah yang pindah ke tempat lebih aman. Di sini kita membuat tower air untuk kebetuhan warga, toilet umum yang tersebar di dua titik dan Berugak untuk pertemuan maupun posyandu.” Jelas LO Desa Obel-Obel Mulyono.

Fasilitas sosial dan fasilitas umum ini sendiri terdiri dari berugak, mushola, toilet umum dan fasilitas sanitasi lainnya sesuai dengan kondisi daerah masing-masing. Fasilitas umum dan fasilitas sosial ini bisa dipergunakan masyarakat sebagai sarana pertemuan, posyandu dan juga pemamfaatan sanitasi dan air bersih. (Santi/Wan)

Ini Rekomedasi Hasil Seminar Membangun Ketahanan Lombok dari Desa di Mataram

Seminar bertajuk “Membangun Ketahanan Lombok dari Desa di Lombok Garden Hotel yang digelar Perkumpulan Skala bersama CSR Sampoerna Untuk Indonesia pada 9 Januari 2019 lalu, menghasilkan sejumlah catatan dan rekomendasi.

Seminar ini dihadiri oleh berbagai pihak, diantaranya BNPB, Dinas Sosial, BPBD, IAGI, Universitas Mataram dari FKIP, Universitas Indonesia, LSM Lokal, Nasional dan International serta media nasional dan lokal.

Pertemuan ini menghasilkan catatan penting dan rekomendasi, yang dapat menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan dalam pengurangan resiko bencana di Indonesia.

Berikut catatan penting dan rekomendasi dari hasil pertemuan tersebut :

  1. Hasil riset harus digunakan sebagai dasar pengembangan pasca gempa di Lombok dan di wilayah-wilayah lain terdampak bencana
  2. Pemulihan harus tepat waktu, diperkirakan akan membutuhkan waktu 2 tahun agar Lombok kembali pulih seperti sediakala, sehingga delay waktu, akan memperlamat proses pemulihan
  3. Dari berbagai pengalaman, maka dibutuhkan kepemimpinan yang mumpuni atau leadership dalam menangani bencana. Leadership ini menjadi prasyarat dalam menanangani bencana baik di daerah maupun di tingkat nasional
  4. Informasi tentang potensi bencana di suatu wilayah agar mudah diakses oleh masyarakat, demikian juga dengan peta potensi serta peta tata ruang pun harus mudah di akses oleh masyarakat, agar masyarakat memahami potensi serta wilayahnya berada di wilayah yang memiliki potensi bencana
  5. Sinergi berbagai pihak menjadi sangat penting, karena bagaimanapun bencana bukan lagi menjadi urusan negara, tetapi menjadi kepedulian dan kepentingan semua pihak. Mengingat kerugian yang dialami oleh semua pihak
  6. Koordinasi antar berbagai pihak, baik di tingkat nasional, tingkat propinsi, dan tingkat lokal, dalam menanggani pra bencana, saat bencana dan pasca bencana. Hal ini menjadi penting agar tidak terjadi tumpang tindih
  7. Regulasi harus dibenahi, agar ego sectoral tidak lagi menjadi masalah
  8. Penting membuat kurikulum untuk pendidikan bencana, dan tidak hanya sekedar ada di dalam diskusi-diskusi, harus segera di eksekusi soal kurikulum kebencanaan dalam dunia pendidikan
  9. Bangunan-bangunan ramah lingkungan, menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat yang hidup di desa, bagaiman prinsip-prinsip kearifan lokal ini bisa diadopsi dalam proses pembangunan kembali wilayah-wilayah yang terkena dampak bencana
  10. Soal pendanaan untuk tanggap darurat atau dana on call harusnya bisa dimaksimalkan agar kita memiliki modal social untuk menanggani bencana, tetapi dibutuhkan sinkronisasi sinergi antar berbagai lembaga, termasuk Lembaga usaha agar dampaknya lebih maksimal

“Seluruh hasil seminar baik berupa catatan dan rekomendasi ini, akan diserahkan kepada pihak terkait, terutama kepada BNPB. Semoga bermanfaat dalam pengurangan resiko bencana,” kata Direktur Perkumpulan Skala, Trinimalaningrum. (Wan)

Skala dan Sampoerna Akhiri Program di Lombok, Sejumlah Acara Digelar

Closing program Lombok Build Back Better yang merupakan salah satu upaya membangun kembali Lombok pasca gempa yang dikerjakan Perkumpulan Skala bekerjasama Sampoerna Untuk Indonesia diakhiri dengan dialog bertema ” Membangun Ketahanan Lombok Dari Desa”di Balai Desa Selengan, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara, NTB (8/1/2019).

Acara tersebut menghadirkan narasumber dari pakar geologi juga pengurus IAGI Nusa Tenggara Barat (NTB)  Kusnadi, Kepala Desa Selengan, Lombok Utara, Kepala Desa Obel-obel, Kabupaten Lombok Timur serta perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB.  Acara tersebut dirangkaikan dengan pameran batik hasil tenunan warga Lombok Utara yang selama ini mendapat pendampingan dari Skala dan Sampoerna Untuk Indonesia.

Selain itu, Skala juga mengundang sejumlah jurnalis dari berbagai media nasional dan lokal melakukukan kunjungan di salah satu lokasi pelaksanan proyek recovery Lombok di Desa Selengan, Lombok Utara.

Direktur Perkumpulan Skala, Trinimalaningrum dalam sambutannya menyampaikan, fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) yang dibangun Perkumpulan Skala dan Sampoerna Untuk Indonesia yang juga melibatkan masyarakat setempat bisa dimanfaatkan masyarakat dalam membangun kesiapsiagan bencana.

“Saya yakin masyarakat lebih siap kalau terjadi gempa dan tsunami,karena masyarakat punya pengetahuan lokal,”ujarnya.

Rini mencontohkan pengetahuan lokal di Palu, sebelum gempa dan tsunami melanda Sulawesi Tengah, beberapa malam anjing menggonggong dan ayam berkokok yang memberi tanda, bakal terjadi sesuatu.

Dalam kesempatan tersebut, mantan wartawan Radio Nederland ini mengingatkan mengenai ancaman gempa dan tsunami serta letusan gunung. “Kita harus selalu berbagi pengetahuan tentang bencana dimana pun kita berada,”Tuturnya.

Abdul Hanam, Kepala Desa Selengan, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara menyampaikan terima atas bantuan berbagai fasilitas dari Skala dan Sampoerna Untuk Indonesia.

Sementara Ridho Ahyana dari BPBD Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) mengatakan,sebenarnya Indonesia punya pengalaman banyak terkait kebencananaan seperti gempa bumi, tsunami dan letusan gunung. Namun sayangnya pengalaman-pengalaman tersebut banyak dilupakan.

“Kita banyak lupa pengalaman-pengalaman tentang kebencanaan karena kita tidak menuliskannya,”ujarnya.

Kukuh Dwi Kristianto dari Sampoerna Untuk Indonesia mengatakan, bantuan program recovery Lombok yang berasal dari CSR Sampoerna Untuk Indonesia sudah tertera dalam nilai-nilai perusahaan Sampoerna.

“Kami ada untuk Lombok dan Indonesia. Kami merasa bahwa Sampoerna punya kewajiban untuk membantu masyarakat melalui CSR,”ujarnya.

Dikatakan, ketika masyarakat dalam kondisi tidak baik akibat bencana, Sampoerna akan berupaya membantu.

“Program respon bencana ini sudah berjalan sejak tsunami Aceh tahun 2005. Kami memberikan dukungan program untuk mempercepat pemulihan Lombok Bangkit, apalagi Sampoerna punya kedekatan emosional dengan masyarakat Lombok, karena 100 persen tembakau diproduksi petani di Lombok, dipasok ke pabrik Sampoerna,”tandasnya.

Keesokan harinya, Perkumpulan Skala dan Sampoerna Untuk Indonesia juga akan menggelar acara Seminar Setengah Hari dengan tema “Membangun Ketahanan Lombok Dari Desa,” di Lombok Garden Hotel, Mataram (09/01/2019). Menurut  Trinimalaningrum, acara tersebut sengaja digelar untuk menampung saran dan masukan dari berbagai stakeholder atas proyek recovery Lombok yang dikerjakan Skala dan Sampoerna Untuk Indonesia, guna perbaikan dimasa-masa mendatang.

Sekedar diketahui, pasca gempa melanda Lombok beberapa waktu lalu, Perkumpulan Skala bekerjasama dengan Sampoerna Untuk Indonesia, menggerakan tim ke Lombok untuk membantu pemulihan kembali Lombok melalui program Lombok Build Back Better yang dikerjakan Perkumpulan Skala bekerjasama Sampoerna Untuk Indonesia yang juga melibatkan masyarakat setempat.

Lewat program tersebut, Perkumpulan Skala bersama Sampoerna Untuk Indonesia, membangun sejumlah fasilitas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasum) seperti MCK, berugak, sarana air bersih berupa tandon dan pipa serta tenda pleton.  bersamaan dengan membangun Kampung Siaga Bencana di daerah dampingan.

Desa dampingan itu adalah Desa Sandik di Kabupaten Lombok Barat, Desa Selengan di Kabupaten Lombok Utara, Desa Obel-Obel dan Desa Sembaung Bumbung di Kabupaten Lombok Timur.

Selain membantu pembangunan infrastuktur, Perkumpulan Skala bekerjasama  Sampoerna Untuk Indonesia juga membantu peningkatkan kapasitas masyarakat setempat melalui pelatihan training membantuk teknik Sogiri dan pelatihan dasar teknik fasilitasi layanan dukungan psiko sosial serta pembentukan kelompok komunitas desa tangguh bencana.

“Semoga fasilitas umum dan fasilitas social dibangun di Lombok, bermanfaat untuk warga setempat, dalam pengurangan resiko bencana,” harap Direktur Perkumpulan Skala, Trinimalaningrum disela-sela acara closing program di Lombok Utara. (Wan)

Mengurai Kompleksitas Perdagangan Ilegal Satwa Liar

Pada kesempatan kali ini, dalam mendukung proses tim Perkumpulan SKALA dalam menyusun buku tentang potret perdagangan ilegal satwa liar (PISL), kami berbincang dengan salah seorang pakar di bidang biologi konservasi, yaitu Samedi, Ph.D.

Read more...

Partners