1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Site Visit IWWEF 2015: Melihat Jakarta Tempo Dulu dan Kini

International Water and Wastewater Expo dan Forum (IWWEF) yang diselenggarakan oleh PERPAMSI di Jakarta pada tahun ini melibatkan lebih banyak partisipan yang mewakili pihak-pihak yang berkepentingan. Mereka yang turut hadir termasuk di dalamnya adalah tamu-tamu asing dari berbagai organisasi yang bekerja di bidang air minum dan sanitasi. Kehadiran delegasi dari luar negeri tersebut memiliki arti penting mengingat peran IWWEF sebagai forum multi-stakeholders yang mengetengahkan prospek kerja sama di antara organisasi/perusahaan di tingkat lokal, nasional, regional, hingga global.    

Setelah mengikuti pembukaan yang diikuti oleh serangkaian seminar pada hari pertama dan kedua IWWEF 2015, para delegasi asing kemudian mengikuti kegiatan kunjungan (site visit) yang dilakukan usai santap siang. Site visit merupakan salah satu aktivitias yang diinisiasi oleh panitia acara untuk memperkenalkan Kota Jakarta. Dengan titik keberangkatan dari tempat berlangsungnya IWWEF 2015 di Hotel Bidakara, tamu-tamu yang sebagian besar berasal dari negara-negara Asia Tenggara serta Cina dan Spanyol akan mengunjungi TMII sebagai titik perhentian pertama. 

Site visit yang dilakukan selama setengah hari tersebut dipandu oleh Nurdiyansah Dalidjo (Diyan) sebagai tour leader bersama dengan tim yang berasal dari PERPAMSI dan Perkumpulan Skala. Di TMII para peserta tur diajak untuk melihat kekayaan budaya dan alam Indonesia melalui rumah tradisional dan museum. Pertama-tama, rombongan singgah di Anjungan Sumatera Utara di mana peserta tur dapat menikmati keunikan rumah asli Suku Nias yang dinamakan Omo Hada. Rumah panggung tersebut menyimpan kearifan lokal dengan konstruksi dan desain yang tahan gempa. Di lokasi yang sama, juga terdapat rumah Suku Batak yang di dalamnya tersimpan beragam koleksi etnografi, seperti ulos, senjata, perkakas dapur, dan benda-benda seni dan budaya masyarakat Batak. Sambil berkeliling TMII, para peserta tur dapat melihat-lihat jejeran rumah-rumah adat dari 33 provinsi di Nusantara. Perhentian kedua, adalah Taman Reptil dan Fauna Indonesia atau akrab disebut Museum Komodo karena desain bangunannya yang menyerupai bentuk naga komodo raksasa. Di tempat ini mereka dapat melihat berbagai hewan yang diawetkan dan hewan hidup, seperti kadal, ular, kura-kura, buaya, harimau, tapir, dan tentu saja komodo yang berasal dari Pulau Komodo di Nusa Tenggara Timur. Di Museum Komodo, peserta yang tak begitu menyenangi reptil tampak agak takut melihat-lihat fauna hidup di ruangan terbuka. Tetapi begitu mengunjungi Taman Burung, nuansa santai, sejuk, dan akrab mulai dirasakan seluruh peserta rombongan. Dari dalam kubah, para peserta dapat melihat ratusan jenis burung yang terbang bebas sambil mendengarkan kicauan burung bersahutan.

Meninggalkan TMII, rombongan beralih ke Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara dengan keunikan pada desain dan kemegahannya sebagai salah satu proyek raksasa yang diusung Presiden Soekarno. Masjid Istiqlal yang terletak di seberang Gereja Katedral juga menjadi representasi Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar dan multi-etnis. Sebelum singgah di Istiqlal, rombongan melewati titik-titik bersejarah, meliputi Tugu Proklamasi, Kantor Pos Cikini, Museum Gedung Djoeang, Patung Pak Tani, Gambir, Galeri Nasional Indonesia, Monumen Nasional, dan Lapangan Banteng (Lapangan Ikada). Tak lupa, Diyan menjelaskan kepada para peserta tur mengenai latar belakang historis lokasi-lokasi bersejarah yang identik sebagai ikon Jakarta.

Menjelang sore, bis beralih menuju destinasi terakhir, yaitu Kota Tua atau dulu dikenal sebagai Oud Batavia, kawasan yang kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Jakarta sebagai Ibukota Negara. Daerah yang dahulu menyandang sebutan sebagai The Queen of the East karena keindahannya itu memiliki relevansi pada persoalan air dan sanitasi.

Sambil berkeliling melintasi jejeran pertokoan dan bangunan tua di Glodok dan Kota dengan lalu lintas yang mulai macet, para tamu asing menikmati pemandangan dari balik jendela bis berupa gedung-gedung bergaya Art Deco dan menyimak ulasan sejarah tentang Jakarta tempo dulu.

“Dari kota yang dipuji sebagai salah satu tempat terindah di Hindia Belanda, Batavia berubah menjadi kuburan orang-orang Belanda (The Graveyard of Europeans) di abad ke-19,” ungkap Diyan menjelaskan dalam bahasa Inggris. Hal itu disebabkan karena Batavia yang dibangun dengan kanal-kanal menghadapi masalah pencemaran air bersih dan sanitasi yang buruk, sehingga menjadi sarang penyakit yang banyak membunuh penduduknya. Gubernur Jenderal Daendels kemudian memindahkan pusat kota ke Weltevreden (kini kawasan Gambir dan Lapangan Banteng) yang berjarak sekitar 15 km selatan Oud Batavia. Tentu saja menjadi sulit untuk dibayangkan ketika Batavia yang dulu dipenuhi bangunan bergaya Eropa Klasik dengan pedestrian yang ditumbuhi pepohonan kenari dan dilewati kanal yang ramai oleh lalu-lalang kapal-kapal perdagangan internasional, kemudian berubah serupa kota hantu di masa itu. Apalagi kini, belum semua gedung-gedung tua direnovasi. Lalu lintas menjelang malam itu pun dipadati deretan kendaraan bermotor dan tumpah ruah pedagang kaki lima.

Sesampainya di Taman Fatahillah, para peserta tur terlihat antusias mengeksplorasi lebih jauh tentang sejarah dan perpaduan arsitektur bangunan tua yang unik. Mereka pun menyempatkan untuk berkeliling sejenak di sekitar Museum Sejarah Jakarta. Hamparan pedagang dan penjaja sovenir di kiri-kanan jalan tak membuat tamu-tamu ini merasa terganggu.

Kegiatan site visit berakhir dengan makan malam di Cafe Batavia. Di restoran dan kafe yang mendiami salah satu bangunan tua di area plasa Kota Tua, para peserta tak sekadar melepas lelah dengan menyantap kuliner khas Indonesia, tetapi juga saling mengobrol hangat dan berbagi cerita tentang pengelolaan air, komentar terhadap Kota Jakarta, dan hal-hal menyenangkan yang terjadi bertepatan dengan kunjungan mereka mengikuti IWWEF 2015. 

Partners