1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Karbon dan Tantangan Pengelolaan Hutan

Persoalan perubahan iklim telah memasuki babak baru. Isu pengurangan emisi dan perdagangan karbon (carbon trade) semakin menjadi perhatian serius sejak beberapa tahun lampau. Masalahnya kini bukan hanya pada sikap negara, tetapi bagaimana kemudian masyarakat lokal di level akar rumput dan pihak swasta merespon hal ini?

Indonesia memainkan peran strategis dalam isu perubahan iklim maupun perdagangan karbon saat ini. Sebagai negara yang memiliki kekhasan pada hutan hujan tropis, Indonesia tak sekadar disebut sebagai negara potensial, melainkan produsen karbon dunia. Saat ini, karbon pula dipandang menjadi suatu aset.

Pada acara bertajuk “Penurunan Emisi Karbon Berbasis Masyarakat” yang diselenggarakan oleh Konsorsium Pengelola Jasa Lingkungan Indonesia (PES Community Consortium) bersama mitranya di Jakarta pada 3-6 Maret 2015, berbagai stakeholders hadir untuk berdiskusi tentang karbon, termasuk di antara mereka adalah pendana dan broker karbon yang bekerja pada skala internasional terkait perdagangan karbon.

Jadi bagaimana sesungguhnya karbon bisa menjadi komoditi dan berdampak positif bagi kerja-kerja pelestarian hutan dan kesejahteraan masyarakat?

Secara sederhana, carbon trade adalah suatu mekanisme menjual dan membeli izin terkait pencemaran. Perspektif yang dikedepankan bahwa hal itu merupakan bentuk investasi dan bukan sekadar emission permit yang didominasi oleh negara-negara industri. Bursa karbon pun kian berkembang. Praktek perdagangan karbon ini tentu sangat bergantung pada kebijakan terkait pengurangan emisi karbon di suatu negara yang pula berbeda antara negara yang satu dan yang lain, baik itu peran negara produsen maupun konsumen. Diharapkan dari kredit pengurangan emisi tersebut akan dapat dimanfaatkan bagi aktivitas deforestasi hutan yang rusak, menjaga kelangsungan konservasi hutan yang ada, sampai pada upaya pemberdayaan dan pengurangan kemiskinan.

Terminologi lain yang bersinggungan dengan carbon trade, yaitu REDD+. REDD+ merupakan mekanisme global yang mengupayakan pada penakanan laju perubahan iklim melalui penurunan emisi akibat deforestasi.

Masalah karbon menjadi salah satu program yang tengah diusung pada rangkaian acara PES Community Consortium. Konsorsium yang terdiri dari jaringan organisasi masyarakat sipil yang berinisiatif mendorong kerja sama multi-pihak untuk membangun mekanisme jasa lingkungan tersebut telah mengembangkan Program Penurunan Emisi Karbondioksida Berbasis Masyarakat. Tujuannya adalah untuk menggalang kerja sama untuk melindungi hutan dari kerusakan akibat deforestasi dan degradasi.

“Hutan masyarakat yang dikelola masyarakat memiliki kerentanan, karena itu PES fokus dalam memelihara hutan yang berada di masyarakat. Pertumbuhan dan kerusakan hutan yang memicu kerusakan hutan dengan munculnya efek gas rumah kaca. Hal inilah yang memicu pemanasan global yang membuat kerusakan pada lingkungan kita. Apabila hutan dikonversi dan dikelola secara tidak berkelanjutan, maka maka akan terjadi peningkatan emisi GRK baik melalui proses dekomposisi maupun pembakaran (sebagai source). Kontribusinya terhadap emisi GRK global saat ini mencapai 18%,” ungkap Arief Aliadi, Ketua Konsorsium dalam menekankan pentingnya peran masyarakat lokal dan masyarakat adat dalam tata kelola dan pemanfaatan hutan.

Saat ini tantangan terhadap pengelolaan hutan di Indonesia tidak hanya terkait pada perdagangan karbon saja, melainkan bagaimana manfaat tersebut bisa berdapak pada masyarakat lokal atau masyarakat adat yang selama ini aktif menjaga hutan. Di level komunitas, masyarakat secara turun-temurun telah menjaga hutan secara terintegrasi dan menyeluruh pada aspek ekonomi, sosial-budaya, lingkungan, dan spiritual.

Konsep benefit sharing kepada masyarakat dalam perdagangan karbon maupun tata kelola hutan ditekankan oleh kawan-kawan di komunitas dengan pendekatan “need based.” Artinya, manfaat harus diterima mereka yang telah menjaga hutan dengan baik sekaligus mengurangi emisi karbon. Jauh sebelum aktivitas penanaman pohon menjadi tren terhadap aksi hijau dan beragam aksi pencitraan berbagai pihak, bagi masyarakat yang tinggal dalam atau dekat kawasan hutan, menanam pohon telah menjadi tradisi dan keseharian mereka.

Partners