1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Proud Mentawai: Sebuah diskusi publik, pameran foto, & pentas budaya untuk Mentawai

Masyarakat adat di seluruh Nusantara sebagian besar hidup dan tinggal pada ekosistem yang cenderung berpotensi bencana. Kejadian bencana alam yang telah banyak terjadi di Indonesia memberikan pembelajaran betapa kita menghadapi begitu banyak persoalan pada proses pra-bencana, saat terjadi bencana, dan pasca-bencana ketika bersinggungan dengan masyarakat adat. Sementara itu, masyarakat adat selama ini seringkali tidak dihadirkan pada kerja-kerja yang berdampak pada penguatan komunitas dalam menghadapi bencana. Padahal, penguatan terhadap pengarus-utamaan pada sikap dan perilaku disaster risk reduction (pengurangan risiko bencana/PRB) menjadi penting mengingat masyarakat adat berhadapan dengan potensi bencana yang tinggi dalam kesehariannya.

Namun di balik kerentanan, masyarakat adat ternyata menyimpan sebuah potensi yang penting untuk digali dan dikembangkan dalam rangka meningkatkan ketangguhan menghadapi bencana: kearifan lokal (dalam konteks masyarakat adat, kita bisa menyebutnya dengan “kearifan/pengetahuan masyarakat adat”). Berbagai kearifan terkait bencana merupakan suatu pengetahuan yang diolah berdasarkan pengalaman dan telah dipraktekkan secara turun-temurun sebagai suatu pemahaman maupun panduan yang memberikan penjelasan tentang fenomena bencana di masa lalu (sejarah kebencanaan) dan bahkan upaya-upaya PRB dan kontinjensi yang berbasis pada budaya dan lingkungan. Beragam kearifan/pengetahuan masyarakat adat dapat berbentuk lisan maupun tulisan.

Kegiatan bertajuk “Pengurangan Risiko Bencana dan Rencana Kontinjensi Berbasis Masyarakat Adat di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat” yang digagas oleh Perkumpulan Skala dan AMAN melalui dukungan dari The Samdhana Institute serta keterlibatan masyarakat adat di Mentawai, mencoba mempertegas kembali aspek kerentanan wilayah Mentawai sekaligus mendorong peran aktif masyarakat adat untuk terlibat pada kegiatan maupun program kebencanaan.

Acara yang berlangsung dengan meriah di Auditorium Perpustakaan Nasional RI di Jakarta tersebut, dihadiri dan dibuka oleh Rijel Samaloisa sebagai Wakil Bupati Mentawai, Abdon Nababan sebagai Sekjen AMAN, dan Trinirmalaningrum sebagai Direktur Perkumpulan Skala/Sekjen Planas PRB. Dukungan dari pihak pemerintah setempat dan perwakilan pemimpin organisasi menjadi bentuk nyata terhadap perhatian bagi Mentawai.

Sementara pada kegiatan diskusi publik, hadir sebagai pembicara, antara lain Anas Radin Syarif (Deputi Sekjen AMAN Bidang Pemberdayaan dan Pelayanan Masyarakat Adat), Irina Rafliana (Peneliti LIPI), Nurdiyansah Dalidjo (Koordinator Program Perkumpulan Skala), Esmat Wandra Sakulok (Pemuda Adat Mentawai), dan Henry Pirade (moderator). Diskusi menyajikan paparan hasil riset yang telah dilakukan oleh para pembicara, termasuk mengundang perwakilan masyarakat adat, terutama pemuda, dari Mentawai untuk hadir memperkaya perspektif terhadap upaya bagi pengelolaan kebencanaan di Mentawai.

Partners