1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Mengenal Psikologi Positif

Adalah M. Jojo Rahardjo - atau akrab disapa Jojo - yang kemudian berinisiasi melakukan pengkajian terhadap Psikologi Positif hingga membuahkan sebuah naskah buku yang rencananya akan segera diterbitkan dengan judul yang sama, yaitu Psikologi Positif. Secara sederhana, Psikologi Positif dapat diartikan sebagai suatu cara yang bisa dipergunakan dalam membangun pikiran positif termasuk dalam hal mengambil keputusan.

Dalam merespon topik lebih lanjut, Perkumpulan Skala bersama Perpustakaan MPR menyelenggarakan sebuah diskusi bertema “Psikologi Positif dan Manusia Indonesia dalam Konteks Pancasila dan Kebhinekaan” di Ruang Presentasi Perpustakaan MPR, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta pada Kamis, 03 Maret 2016 yang lalu.

Turut hadir sebagai pembicara adalah M. Jojo Rahardjo (penulis), Hajriyanto Y. Tohari (anggota lembaga pengkajian MPR RI), Irna Permatasari (editor senior Gramedia), Adhi Santika (staf pengajar UI), dan Dasman Djamaludin (wartawan senior).

“Psikologi positif baru dikembangkan selama dua dekade terakhir,” ungkap Jojo Rahardjo dalam acara tersebut. Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa Psikologi Positif berbeda dengan positive thinking (berpikir positif). Positive thinking hanya sekadar filosofi dalam melihat sisi baik, sedangkan psikologi positif memerlukan aksi dalam melihat sisi positif dalam kehidupan.

Jojo Rahardjo menerangkan bahwa pemerintah pasti tertarik dengan Psikologi Positif, namun dia belum mencoba menginformasikan kepada pihak pemerintah. Acara diskusi tersebut adalah hal yang pertama kalinya dilakukan terkait dengan upaya mengenalkan topik tersebut kepada publik.

Psikologi Positif menjadi strategis untuk dikembangkan karena dapat menumbuhkan sikap positif terlebih bila diterapkan pada anak usia dini. Hal itu bisa menumbuhkan sikap positif yang bisa dibawa dalam kehidupan sebagai contoh dalam pelajaran anti-korupsi yang bisa dibawa sampai dewasa. Jojo mengatakan kalau pada dasarnya setiap manusia terlahir dengan nilai positivity yang berbeda dengan rata-rata sekitar 45 persen.

Sementara Trinirmalaningrum, Direktur Eksekutif Perkumpulan Skala sekaligus Sekjen Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB) berpendapat bahwa Psikologi Positif penting untuk dikembangkan sebagai alat untuk mengatasi persoalan trauma pada saat terjadi bencana. “Psikologi positif juga dapat memperbaiki kualitas manusia, termasuk pengambilan keputusan politik,” ungkap Trinirmalaningrum.

Partners