1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Kebahagiaan Menurut Psikologi Positif

Sejak kecil kita telah akrab dengan kata “kebahagiaan.” Sering kita dengar bahwa kebahagiaan akan datang jika kita sukses. Kita akan bahagia jika mendapatkan pasangan yang tepat. Kita akan bahagia jika mendapatkan pekerjaan yang bagus. Kita akan bahagia jika menjadi orang kaya. Begitu seterusnya. Apakah betul begitu? Apakah betul setelah kita mendapatkan apa yang kita cita-citakan atau apa yang kita inginkan, kita menjadi bahagia?

Berbagai riset menunjukkan bahwa tidak selalu orang menjadi lebih bahagia setelah keinginannya atau cita-citanya tercapai. Mengapa? Menurut Shawn Achor, seorang positive psychologyst, karena apa yang kita inginkan di masa depan terus bertambah atau berubah.

Lalu, apakah kita tidak memerlukan kebahagiaan? Sebelum menjawab pertanyaan itu, kita perlu bertanya: Apakah sebenarnya kebahagiaan itu? Umumnya orang menganggap kebahagiaan adalah rasa senang yang kita alami. Jawaban itu tentu tidak salah, karena rasa senang adalah salah satu komponen dari beberapa komponen kebahagiaan yang lain.

Jika kita Googling, ada banyak definisi kebahagiaan yang tersedia. Sudah sejak lama peradaban manusia mempelajari dan mengejar kebahagiaan. Namun dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, kebahagiaan sudah sampai pada taraf dapat dianalisa di laboratorium dan dapat diperoleh dengan lebih mudah oleh setiap orang.

Neuroscience (neuro-sains) dan positive psychology (psikologi positif) adalah dua cabang ilmu yang rajin meneliti dan mengembangkan ilmu kebahagiaan selama lebih dari dua dekade terakhir ini. Bahkan, quantum physics juga dilibatkan untuk lebih menjelaskan apa itu kebahagiaan. Martin Seligman yang kini dikenal sebagai pakar neuro-sains yang pertama mengenalkan dan mengembangkan psikologi positif telah memberikan definisi sendiri tentang apa itu kebahagiaan. Menurut Martin Seligman ada tiga komponen yang membentuk kebahagiaan, yaitu pleasure, engagement, dan meaning.

Pleasure

Rasa senang sering diungkapkan dengan menggunakan kata “bahagia.” Itu tak salah, karena rasa senang menghasilkan emosi positif yang membentuk kebahagiaan. Elemen pertama dari kebahagiaan ini disebut hedonis, karena kebanyakan orang terjebak untuk mengejar rasa senang ini yang disangka adalah seluruh elemen kebahagiaan.

Engagement

Hasil atau pencapaian sebuah tujuan yang kita tentukan akan menghasilkan kepuasan yang pada akhirnya menghasilkan kebahagiaan. Karena itu engagement membutuhkan komitmen yang serius, kecerdasan, kreativitas, hubungan sosial, disiplin, dan lain-lain. Engagement mungkin sebuah proses yang keras dan menyakitkan, namun seluruh proses itu akan disebut gratifying atau memuaskan yang dapat dinikmati. Contoh dari sebuah proses engagement adalah seorang yang menjalani olahraga maraton berjam-jam dan berkilo-kilo meter. Contoh lainnya adalah para pendaki gunung yang gemar mendaki sangat tinggi seperti Everest.

Meaning

Memberi arti bagi hidup adalah elemen ketiga dari kebahagiaan yang melibatkan hal-hal yang lebih besar dari diri kita sendiri. Berada pada rel kehidupan yang menurut kita tepat akan menghasilkan rasa bahagia. Elemen ini mungkin melibatkan ilmu pengetahuan, ideologi, keluarga, komunitas, nilai-nilai, keadilan, atau bahkan agama.

Kecenderungan untuk mengejar kebahagiaan melalui pleasure disebut sebagai mengejar the pleasant life. Kecenderungan untuk mengejar kebahagiaan melalui engagement disebut sebagai mengejar the good life. Kecenderungan untuk mengejar kebahagiaan melalui meaning disebut sebagai mengejar the meaningful life. Sedangkan seorang yang mengejar semua elemen kebahagiaan itu disebut mengejar full life dan akan mendapatkan kepuasan hidup yang penuh atau kebahagiaan.

Martin Seligman sudah melakukan riset dan menunjukkan bahwa 3 elemen kebahagiaan ini bisa dipacu melalui program tertentu dan bisa meningkatkan kebahagiaan sebagaimana bisa dilihat di http://authentichappiness.org. Hasil dari program ini bahkan mengejutkan, karena kebahagiaan yang dihasilkan tidak segera menghilang dengan cepat, meski program dihentikan atau telah berakhir.

Sebagaimana sudah ditemukan dalam berbagai riset, kebahagiaan juga tercetak di dalam gen setiap orang. Jadi ada orang yang sudah memiliki kecenderungan untuk memiliki kebahagiaan tanpa harus melakukan upaya keras untuk mendapatkannya. Namun bagi yang memiliki gen kebahagiaan yang tidak terlalu besar, tidak perlu kecil hati, karena kebahagiaan dapat dibangun dengan relatif mudah.

Shawn Achor mengatakan kebahagiaan adalah kondisi otak yang positif yang membuat otak bekerja lebih maksimal. Dengan kondisi otak yang positif, Shawn Achor dalam bukunya berjudul Happiness Advantage, menyebut kondisi itu memiliki berbagai keuntungan, antara lain kecerdasan bertambah, kemampuan menganalisa bertambah, kreativitas bertambah, kemampuan memori untuk menyimpan dan mengambil meningkat, tidak mudah depresi, jika depresi lebih cepat pulih, cenderung kepada kebajikan, lebih memiliki cinta kepada sesama manusia atau alam (damai dan tidak merusak), pemurah (mudah menolong orang lain), kualitas hubungan dengan orang lain menjadi lebih baik, memiliki tubuh yang lebih sehat, dan panjang umur.

Ayo, bersegeralah untuk memperoleh kebahagiaan! 

Partners