1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

SKALA dan CSR Sampoerna Untuk Indonesia Lakukan Pemulihan di Lombok

MATARAM –  Indonesia merupakan salah satu negara yang banyak memiliki pulau dan gunung berapi aktif yang setiap tahunnya dapat menimbulkan potensi resiko bencana. Kita hidup di negeri cincin api, dimana 295 sesar aktif dan gunung berapi aktif menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Indonesia.

Tahun 2018 menjadi catatan penting bagi masyarakat di Indonesia, secara berturut-turut Indonesia mengalami bencana gempa di Lombok, menelan korban 569 orang meninggal dunia, 74.500 keluarga kehilangan tempat tinggal, dan mengakibatkan kerugian material sebesar Rp 12 triliun.

Belum selesai persoalan di Lombok, gempa, tsunami dan likuifaksi menimpa Palu, Sigi dan Donggala, 2.000 lebih korban meninggal ratusan ribu warga kehilangan tempat tinggal, serta secara ekonomi Sulawesi Tengah mengalami kerugian Rp 22 triluan. Kemudian, pembangunan belum dimulai di Palu, Selat Sunda dan longsor di Sukabumi terjadi dan meninggalkan berbagai persoalan dalam penanangganannya.

Sampai saat ini upaya pembangunan kembali masih dilakukan oleh pemerintah, baik yang di level nasional maupun daerah. Menurut data BNPB dalam Kaleidoskop 2018, yang dilansir pada Desember 2018, menyebutkan bahwa pendanaan yang dibutuhkan untuk pembangunan kembali Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah, pemerintah membutuhkan sekitar Rp 34 triliun. Pemerintah sendiri akan menyiapkan sekitar Rp 6 triliun. Sementara dana dari belanja non K/L (Kementrian/Lembaga) sebesar Rp 5 triliun dan dana dari pooling fund (konsorsium pendanaan) sebesar Rp 1 Triliun. Sehingga dana untuk pembangunan kembali wilayah-wilayah terdampak masih ada kekurangan sebesar Rp 15 triliun.

Tentu kita semua menyadari bahwa dibutuhkan berbagai strategi dalam pengembangan pembangunan berdasarkan potensi bencana yang ada di wilayah harus menjadi pertimbangan mendasar, agar tidak terjadi lagi korban-korban dan kerugian secara ekonomi. Untuk itu, PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) di bawah payung program tanggung jawab sosial dan lingkungan “Sampoerna Untuk Indonesia” (SUI), bekerjasama dengan Perkumpulan SKALA dan dengan dukungan berbagai pihak, baik dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Sosial NTB, IAGI NTB, Pemda Lombok Utara, Pemda Lombok Barat dan Lombok Timur telah melaksanakan program pengembangan pemulihan pasca gempa dengan kegiatan pemberian tenda untuk Kelompok Masyarakat Sadar Bencana, pembangunan fasilitas sanitasi air, fasilitas umum untuk kegiatan pemerintahan desa, fasilitas sosial untuk kegiatan pendidikan dan ekonomi masyarakat, serta pembentukan kelompok-kelompok siaga bencana di desa-desa.

Program pemulihan pasca bencana yang bertema Program Lombok Build Back Better berlangsung sejak bulan Oktober 2018 sampai dengan Januari 2019 ini bertujuan untuk menjawab beberapa kebutuhan yang dihadapi oleh desa-desa yang terdampak gempa pada bulan Juli lalu dan untuk membangkitkan lagi semangat warga dan mempersiapkan kegiatan perekonomian warga ke depannya.

Program pemulihan pasca bencana ini dilaksanakan di 4 desa, yaitu Obel-Obel, Selengen, Sandik dan Sembalum Bumbung. Program yang dikembangkan berdasarkan data yang direkomendasikan oleh pemerintah provinsi dan kabupaten, bahwa di empat desa tersebut dampak yang cukup besar namun belum banyak pihak yang berpartisipasi dalam kegiatan pemulihan di area tersebut. Selain fasilitas yang diberikan, dilaksanakan juga pembentukan KSB (Kelompok Siaga Bencana) di desa-desa tersebut.

Nantinya KSB inilah yang akan menjadi penggerak untuk kesiap siagaan di setiap desa, di bawah pengarahan dan pengawasan desa tentunya. “Pendekatan yang agak berbeda yang kami tawarkan, dengan membuat kelompok-kelompok semacam ini, diharapkan dapat memberi dorongan untuk membangun desa lebih tangguh dan kami berharap dapat menyiapkan masyarakat untuk menjadi lebih sigap dan siap untuk bangkit kembali,” jelas Arif Triastika, selaku Regional Relation & CSR Manager PT HM Sampoerna Tbk.

Kerjasama berbagai pihak merupakan salah satu faktor penting dalam percepatan pemulihan pasca bencana. Pemerintah menyadari bahwa pembangunan juga memerlukan kontribusi dan sinergi dari berbagai pihak baik masyarakat, lembaga swadaya, akademisi, juga para pelaku usaha. Upaya mitigasi bencana pun juga perlu disebarluaskan secara masif bahkan hingga tingkat desa dengan beragam cara dan strategi untuk mencegah resiko bencana di kemudian hari.. Hal ini juga diupayakan oleh Perkumpulan Skala, melalui berbagai media yang ada, Skala menyebarkan berbagai panduan praktis dalam menghadapi bencana. Kerja sama antar elemen seperti yang dilakukan di Lombok ini sangat membantu kerja pemerintah dalam upaya rehabilitasi dan rekonstruksi.(*/1)

 

Partners