1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Bencana dan Kearifan Masyarakat Adat Mentawai

Perjalanan ke Mentawai adalah yang pertama dilakukan oleh tim Skala (Perkumpulan Skala) untuk kegiatan pengurangan risiko bencana (PRB) dan rencana kontinjensi terhadap masyarakat adat. Jika pada kegiatan sebelumnya kami melakukan hal serupa dengan mengundang dan mengajak masyarakat adat untuk berdiskusi pada Peringatan Bulan PRB 2014 di Bengkulu dan 2015 di Solo, kali ini justru kami yang datang langsung ke komunitas adat.

Read more...

Kearifan Lokal Toraja dalam Bersawah

“Coba bayangkan mana yang lebih baik: panen padi satu tahun sekali atau dua kali?” Ibu Den Upa melontarkan suatu pertanyaan pembuka ketika saya berkunjung dan menginap di rumahnya di Lembang Madandan, Kabupaten Tana Toraja. Kami tengah makan malam dengan nasi merah dan lauk ikan mas ukuran besar berbumbu rempah hitam pammarasan.

Read more...

Kearifan Pengelolaan SDA di Kasepuhan Ciptagelar

Kesatuan Adat Banten Kidul, khususnya Kasepuhan Ciptagelar yang berada di Pegunungan Halimun, merupakan komunitas adat yang dikenal dengan kearifan mengelola sumber daya alam. Masyarakat adat yang tinggal di kawasan dataran tinggi ini menerapkan keharmonisan yang unik mengenai zonasi hutan, pola permukiman, dan sistem pertanian di lereng-lereng bukit, baik itu ladang/huma maupun sawah terasering. Mitigasi dan adaptasi pada potensi bencana longsor di kawasan sekitarnya berpadu dalam kehidupan sehari-hari dengan pendekatan yang berbasis budaya dan lingkungan.

Read more...

Rumah Ramah Bencana di Nias

Pulau Nias di lepas pantai barat Sumatera mengalami dampak serius akibat gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004. Sebanyak 140 penduduk tewas dan ratusan lainnya kehilangan tempat tinggal. Beberapa bulan kemudian, 28 Maret 2005, terjadi lagi gempa berkekuatan 8,7 skala Richter dan merenggut 839 jiwa. Dampak gempa juga menyebabkan tanah terangkat hingga lebih dari dua meter. Tidak itu saja, karang pantai ikut tersembul sampai 100 meter dari garis pantai semula. Kehidupan 90% penduduknya terkena dampak, 15.000 rumah harus diperbaiki, dan 29.000 lainnya harus dibangun kembali.

Sekitar sepuluh tahun berlalu, proses rehabilitasi dan rekonstruksi pun sudah selesai. Hampir tidak terlihat bahawa daerah ini pernah luluk lantak seluruh bangunannya karena diterjang gempa. Bagi yang baru pertama kali ke Pulau Nias, barangkali mungkin sulit mempercayai pernah terjadi bencana-bencana besar di sini, karena  saat ini hampir tidak tersisa lagi gambaran kehancuran dan digantikan banyak hal baru: jalan yang lebih bagus, gedung-gedung dan rumah-rumah dari kayu, beton, batu bata yang seolah telah lama ada di sana, dan berbagai fasilitas infrastruktur kota lainnya. Masyarakat beraktivitas dengan normal, dan bencana itu seharusnya masih diceritakan, tetapi mulai aus dari ingatan.

Read more...

Partners