1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Kearifan Pengelolaan SDA di Kasepuhan Ciptagelar

Kesatuan Adat Banten Kidul, khususnya Kasepuhan Ciptagelar yang berada di Pegunungan Halimun, merupakan komunitas adat yang dikenal dengan kearifan mengelola sumber daya alam. Masyarakat adat yang tinggal di kawasan dataran tinggi ini menerapkan keharmonisan yang unik mengenai zonasi hutan, pola permukiman, dan sistem pertanian di lereng-lereng bukit, baik itu ladang/huma maupun sawah terasering. Mitigasi dan adaptasi pada potensi bencana longsor di kawasan sekitarnya berpadu dalam kehidupan sehari-hari dengan pendekatan yang berbasis budaya dan lingkungan.

Bertani bagi masyarakat Kasepuhan dilakukan tidak semata-mata sebagai pekerjaan, melainkan bagian dari kehidupan. Meski hampir seluruh masyarakat di Kasepuhan adalah petani, namun padi tidak diperjualbelikan. Hukum adat itulah yang menegaskan bahwa padi bukan komoditi dan petani bukan menjadi mata pencaharian. Selain menanam padi, masyarakat di Kasepuhan juga menanam sayur-mayur dan palawija (termasuk rempah-rempah, seperti jahe, kunyit, cengkeh, dan sebagainya) serta memelihara ternak yang ditukar atau djual kepada orang lain untuk memenuhi kebutuhan yang hanya bisa dibeli dengan uang.

Masyarakat Kasepuhan hidup selaras dengan alam dan menjalin relasi yang saling ketergantungan (mutual relation). Seperti yang dikatakan Abah Ugi, “Dengan alam (kita) saling membutuhkan karena semua yang ditinggali butuh alam dan alam (juga) butuh kita buat tanam pohon.” Abah Ugi Sugriana Rakasiwi (Abah Ugi) adalah pemimpin Kasepuhan saat ini yang menggantikan ayahnya, Abah Encup Sucipta (Abah Anom) yang meninggal tahun 2007. Bagi Kasepuhan, sebutan “abah” merujuk pada pemimpin adat dan sebutan “emak” bagi istri abah.

Tata Kelola Hutan Adat

Bentuk kearifan lokal yang sangat lekat dengan tata kelola sumber daya alam yang berkelanjutan, adalah sistem zonasi hutan. Pembagian wilayah hutan dikelompokkan berdasarkan fungsi dan nilai sakral. Batasan memang tidak secara tegas disebutkan, namun umumnya masyarakat memahami karakter zona tertentu. Mereka yang melanggar batasan akan menerima sendiri akibat dari pelanggaran aturan adat tersebut.

Dalam bahasa setempat, hutan (hutan adat) disebut leuweung kolot. Masyarakat adat Kasepuhan membagi leuweung kolot ke dalam tiga wilayah. Zonasi yang diterapkan menunjukkan intensitas pemanfaatan yang berbeda secara hierarkis. Zona hutan bagian terdalam memiliki berbagai pembatasan yang sangat ketat dan makna spiritual paling tinggi dibanding dua wilayah lain. Abah memiliki kedudukan interaksi dan peran terkuat dalam hal pengelolaan hutan, termasuk menakar intensitas kemendesakan dalam mengakses kawasan maupun manfaat/fungsi dari setiap zonasi. Zonasi hutan adat terbagi ke dalam hutan titipan, tutupan, dan garapan.

  1. Hutan titipan (leuweung titipan/protected forest)

Hutan titipan mempunyai makna sangat sakral/keramat. Hutan titipan menyimpan apa yang dianggap masyarakat adat sebagai warisan leluhur. Meski tak ditegaskan secara jelas apa yang dimaksud warisan, namun di zona inilah keanekaragam hayati masih terjaga dengan sangat ketat. Segala hal yang ada di hutan titipan dilarang untuk diambil, bahkan untuk masuk saja memerlukan syarat dan izin khusus (ritual). Untuk hutan titipan ini ada istilah cikarancang., yaitu semacam “pagar” atau pelindung yang terlihat, tapi tak bisa ditembus.

  1. Hutan tutupan (leuweung tutupan/conservation forest)

Hutan tutupan adalah hutan yang menjadi sabuk bagi hutan titipan dan perantara di antara hutan titipan dan hutan bukaan (zonasi setelah hutan titipan). Meski tak seketat hutan titipan, namun peraturan terhadap pengambilan kayu atau pemanfaatan hasil hutan tutupan juga perlu memiliki izin khusus dari abah. Pemanfaatan hanya diizinkan untuk kebutuhan hidup yang mendesak dan pengambilan material ritual tertentu. Aktivitas perladangan dilarang dilakukan di area ini.

  1. Hutan bukaan (leuweuang sampalan/opened forest)

Hutan bukaan merupakan zona terluar dari hutan adat di mana terdapat permukiman dan garapan berupa ladang/huma dan sawah. Di zona inilah masyarakat Kasepuhan tinggal dan bercocok tanam. Rumah-rumah panggung bermaterial kayu dan ijuk menghiasi wilayah. Meski berada di lapisan paling luar, bukan berarti tak ada aturan adat yang diterapkan. Siapa pun yang hendak mendirikan rumah harus mengantongi izin terlebih dulu.

Kesadaran terhadap hutan begitu lekat pada masyarakat Kasepuhan. Hutan adalah kehidupan. Setidaknya metafor itulah yang mereka yakini untuk menggambarkan betapa hutan menjadi begitu penting bagi mereka. Anak-anak telah diajarkan mengenai bagaimana mereka harus merawat hutan, termasuk pantangan-pantangan dan pembagian zona hutan. Sejak dini, mereka diperkenalkan dengan kegiatan menanam pohon sebagai bentuk penghormatan pada alam dan “tabungan” bagi si anak nanti dewasa atau menikah ia membutuhkan kayu untuk membangun rumah sendiri atau kebutuhan lainnya. Pasangan muda atau keluarga yang hendak membuat rumah kayu itu harus menabung pohon. Saat anak lahir, bahkan sebelum lahir, orangtua sudah mulai menanam pohon kayu di talang atau ladang atau di halaman rumah. Untuk rumah sekitar 8 x 10 m kira-kira membutuhkan sekitar 12 pohon berusia 5 tahun. Anak-anak biasanya sudah diajarkan menanam pohon di usia 12 tahun.

Abah Ugi menyarankan pada warganya untuk sedikitnya menanam satu pohon per kepala di dalam keluarga. Mereka yang menebang pohon tanpa izin pun diberikan sanksi adat untuk menanam kembali 10 pohon. Tanaman sirah cai (pohon atau tanaman penyerap air di dekat sumber mata air) tidak boleh dirusak, apalagi ditebang. Segala sesuatu ada izinnya. Bagaimana mereka melakukan permisi untuk menebang pohon melalui ritual adalah cara komunikasi yang menjadi bentuk penghormatan pada alam maupun segala hal yang hidup. Abah Ugi berpesan mengenai pentingnya berizin pada segala hal atau apa saja yang hendak dilakukan, “Amitan baru mipit.” Artinya, izin dulu baru mengambil.

“Semua bernapas dan hidup. Itulah kehidupan,” ungkap Abah Ugi. Ada pepatah lama di antara tetua adat dan sesepuh yang menggambarkan kehidupan ideal masyarakat dengan hutannya. Pepatah itu berbunyi “leuweung hejo, rakyat ngejo,” artinya hutan lestari, rakyat sejahtera. Menurutnya, saat ini Kasepuhan memiliki tugas sebagai pancer pangawinan atau penjaga keseimbangan.

Pengelolaan hutan adat telah terlembagakan ke dalam lembaga dan aturan adat masyarakat Kasepuhan. Berbagai kegiatan yang bersinggungan dengan akses dan pemanfaatan harus diketahui dan dengan seizin abah sebagai pemimpin adat. Kasepuhan juga memiliki bagian khusus dalam rorokan yang memantau hutan, yaitu semacam pamswakarsa/jagawana (ranger) atau tim dari masyarakat adat yang memelihara dan menjaga hutan, seperti salah satunya melakukan aktivitas patroli hutan.

Meski seolah Kasepuhan mempunyai banyak aturan adat secara lisan (tidak tertulis), namun yang diterapkan oleh mereka adalah hukum kabendon. Hukum ini secara sederhana sering kita pahami sebagai “kualat.” Mereka yang melanggar aturan adat, seperti merusak pohon, tidak akan dihukum oleh tokoh adat, melainkan dialah yang kelak dihukum oleh leluhurnya sendiri. Sementara sanksi adat pun dijalankan bukan semata-mata sebagai hukuman, tetapi untuk kebaikan. Maka, tak ada semacam “polisi adat” di Kasepuhan seperti halnya tak ada yang memastikan bahwa sanksi adat benar-benar dijalankan sebab biasanya masyarakat sudah memahami betul konsekuensi atau sebab-akibat yang dilakukan.

Tata Kelola Ladang & Sawah

Banyak hal yang menarik sekaligus menjadi pembelajaran dari masyarakat di Kasepuhan terkait budaya agraris yang mereka terapkan. Kita tak bisa menyebutnya sekadar menanam padi karena padi memiliki makna yang sakral terhadap sosok Dewi Sri yang lekat dengan ibu dan aspek feminin alam semesta yang aktif (kesuburan/reproduksi). Alam adalah ibu dan guru, begitulah ungkapan masyarakat Ciptagelar. Aktivitas menanam padi dan memanen padi merupakan aktivitas yang dibarengi dengan berbagai ritual dan dirayakan meriah.

Masyarakat kasepuhan memiliki sejumlah corak dan pola bagaimana masyarakat di sana mengelola dan memanfaatkan lahan untuk pertanian dan perkebunan, yaitu huma/ladang (swidden cultivation), sawah (rice growing), pekarangan (homegarden), kebuntalun (talun-kebun system or modified shifting cultivation/annual-perennial rotation in the garden), dan talun (talun system in the forest or mixed forest). Keberagaman cara bercocok tanam tersebut menunjukkan pengetahuan yang tinggi terhadap botani dan agronomi masyarakat di Kasepuhan.

Dari kejauhan, huma dan persawahan terasering di antara bukit-bukit di Kasepuhan menyerupai piramida dengan corak garis-garis melingkar yang rapih. Sebuah teknik kuno yang diturunkan dari generasi ke generasi. Inspirasi tentu bisa muncul dari mana saja. Tetapi mengolahnya sebagai pembelajaran dari karakter bentang dataran tinggi dan pola bangunan megalitik punden-berundak ini menjadi menarik ketika berhasil dipadankan pada kehidupan sehari-hari sebagai bentuk adaptasi sekaligus warisan leluhur yang terus hidup hingga sekarang (living heritage). Ini merupakan kekhasan masyarakat Kasepuhan terhadap pemanfaatan sumber daya air dan lahan untuk kepentingan agrikultur.

Padi-padi yang ditanam di lingkungan Kasepuhan merupakan bibit lokal yang dibudi-dayakan secara turun-temurun (masyarakat mengatakan bibit lokal sebagai bibit titipan leluhur) dan gotong royong. Seluruh padi yang dihasilkan pun organik (tanpa pupuk kimia dan pestisida). Bibit warisan di Kasepuhan berjumlah sekitar 167 varietas.

Menanam padi memiliki dua tipe proses, yaitu padi huma dan padi sawah. Padi huma terus dijalankan dan dianggap prioritas karena merupakan pengetahuan asli nenek moyang Ciptagelar, sedangkan padi tanah basah (sawah), menurut Abah Ugi, baru dikenal masyarakat dalam rentang 300 tahun terakhir. Keduanya memiliki corak penanaman yang serupa, namun berbeda. Serupa karena padi huma dan padi sawah sama-sama ditanam dengan pola terasering/berundak, sementara keduanya memiliki sistem irigasi yang berlainan. Pola terasering di huma diselingi dengan palawija dan pohon besar pada setiap level undakan. Pohon yang ditanam bisa beragam dan merupakan pohon kayu yang kayunya bisa dimanfaatkan di kemudian hari, seperti rasamala, manglid, dan lainnya. Pohon ini memiliki fungsi sebagai perangkap/penahan undakan kemiringan agar tidak longsor dan penyerap air. Sengket atau umpak adalah nama lokal untuk pola penanaman sawah dan ladang terasering/berundak. Perlu diketahui bahwa padi huma merupakan pertanian tadah hujan, artinya memanfaatkan hujan sebagai sumber air. Perawatan padi huma pun tidaklah rumit, yaitu hanya dirawat dengan cara mencabuti rumput liar atau semak pada lahan huma dengan perkakas sederhana.

Sementara untuk padi tanah basah, memiliki pola undakan yang serupa pada padi huma. Hanya saja setiap level undakan tidak ditanami pohon, melainkan deretan jenis tanaman serupa rumput yang sengaja ditanam untuk menahan setiap level undakan. Sistem irigasi pada padi sawah memanfaatkan aliran sumber mata air yang mengalir dari atas bukit menuju sawah terasering dan diteruskan ke saluran menuju rumah-rumah warga dan sungai. Dengan begitu, pemanfaatan lahan dengan kemiringan ekstrim tidak rawan longsor dan justru menjadi efektif karena aliran irigasi mengalir ke setiap level dari atas ke bawah dengan sendirinya. Pola irigasi ini hampir mirip dengan pola saluran air pada arsitektur bangunan berlanggam piramida, salah satunya candi. Ketika ditanya mengenai mengapa lahan padi tidak longsor, banyak warga menjawab bahwa longsor di huma dan sawah tidak terjadi karena izin leluhur dan niat baik yang mereka lakukan.

Padi huma maupun padi sawah sama-sama ditanam hanya sekali dalam setahun. Mulai dari proses penyebaran dan penanaman bibit (ngaseuk), pemupukan/perawatan (sawenan), pemotongan padi (mipit), pencicipan hasil panen (nganyaran), peniduran lahan dan persiapan seren taun (ponggokan), hingga puncak perayaan panen raya (seren taun), seluruhnya memiliki ritual atau izin khusus. Abah memainkan peran kunci dalam menentukan waktu tanam. Dalam penentuan kapan tepatnya menebar benih harus dilakukan, terdapat tata cara yang memadukan pengetahuan lokal dalam membaca “tanda-tanda” dan penghitungan kalender (kemungkinan mengacu pada ilmu perbintangan). Waktu penanaman misalnya, tidak selalu sama setiap tahun, tetapi ada pergeseran sekitar 15 sampai 30 hari setiap tahunnya.

Pada umumnya, seluruh rangkaian proses bercocok tanam padi sawah dan huma berlangsung selama 6-7 bulan (paling lama adalah 8-9 bulan, tapi jarang sekali). Padi huma bisa meraih panen sampai 40 ikat padi, sementara padi sawah mencapai 300 ikat dengan penggunaan bibit hanya 10 ikat (satu ikat setara dengan kisaran 2-3 kilo). Hasil panen akan “dibersihkan,” antara lain disisihkan untuk zakat (2,5%), penggantian sejumlah benih yang dipakai, alokasi kebutuhan adat, dibagi kepada keluarga/kerabat atau orang-orang yang dihormati sebagai tanda terima kasih, dan sisanya akan disimpan di leuit untuk kebutuhan sehari-hari dan disimpan sebagai tabungan. Gagal panen di Ciptagelar adalah mitos yang tampaknya tak pernah menjadi nyata.

Sesudah panen (ngunjal), sementara lahan diistirahatkan untuk menjaga unsur haranya, kesibukan utama para petani akan mencapai puncaknya untuk mempersiapkan perayaan seren taun yang biasanya jatuh sekitar Agustus serta mengisi hari dengan mengolah padi (menjemur dan menumbuk padi oleh perempuan) dan bercocok tanam tumpang sari dengan tanaman sayur, palawija, dan pohon di lahan tidur.

Selain padi huma dan padi sawah, masyarakat kasepuhan juga menerapkan pola talun. Talun dapat dikelompokkan lagi ke dalam talun pekarangan (homegarden/homeyard) maupun kebun yang berbatasan dengan sawah atau huma dan area hutan garapan (kebun-talun). Talun dapat disejajarkan maknanya dengan sistem multi-tajuk di pekarangan dan Ladang Gulir Balik. Di lahan talun inilah yang seringkali menjadi lokasi untuk pemenuhan kebutuhan kayu sehari-hari dan kebutuhan kayu dalam waktu yang cukup lama. Selain komoditi perkebunan, di talun juga ditanam pohon jabun, suren, jenjeng, dan lain-lain di mana pohon kelak sudah dapat ditebang dalam waktu sekitar 5 tahun, utamanya untuk kebutuhan pembuatan rumah. Talun merupakan sistem agroforestri tradisional yang bermanfaat untuk rehabilitasi lahan kritis dan optimalisasi produktivitas lahan.

*Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Kearifan Lokal Sunda pada buku Kearifan Lokal Indonesia untuk PRB yang ditulis bersama oleh Nurdiyansah Dalidjo dan Trinirmalaningrum dan diterbitkan mealui kerja sama dengan BNPB.

Partners