1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Rumah Ramah Bencana di Nias

Nias memiliki sejarah panjang kejadian gempa dengan skala besar dan gelombang tsunami yang tinggi yang berdampak hampir ke seluruh wilayah. Catatan penting dari kejadian bencana ini bahwa masyarakat di Kepulauan Nias harus menyadari bahwa mereka hidup di kawasan rawan bencana sehingga fenomena alam harus dikenali dan diakrabi. Periode waktu terjadinya bencana kian pendek, dari ratusan ke puluhan tahun. Para ahli mengatakan terdapat gerakan geologis lempengan yang terus terjadi menyebabkan wilayah ini rentan dengan gempa. Kenyataan ini rupanya tidak  membuat orang Nias berpikir meninggalkan pulau mereka.

Dalam konteks ini, potensi kearifan lokal melalui pemahaman pengetahuan lokal, teknologi lokal, budaya, dan tradisi lokal yang telah terbukti dan teruji dikonstribusikan dalam perencanaan mitigasi bencana. Cukup banyak kearifan lokal yang telah mentradisi dan teruji mampu mengatasi masalah-masalah lingkungan berbasis mitigasi bencana. Salah satu contoh yang menarik dipelajari dari Nias adalah kehadiran rumah tradisionalnya yang dibuat dari material alam dan penuh makna filosofi, termasuk perspektif kebencanaan.

Konstruksi Omo Hada

Omo Hada adalah konstruksi yang lahir dari kepiawaian masyarakat adat Nias. Ujian terbaru terhadap Omo Hada adalah pada gempa bumi. Gempa meluluh lantahkan hampir seluruh bangunan di Pulau Nias, namun Omo Hada yang dibuat dari kayu tanpa paku masih tegap berdiri. Dengan usia mencapai 300 tahun, Omo Hada masih tegap berdiri. Konstruksinya cukup sederhana dan didesain ramah lingkungan.

Sistem pondasi Omo Hada dibuat berdasarkan tinjauan kelenturan secara umpak, yakni batu-batu disusun rapi dan tidak ditanam di tanah. Susunan bebatuan inilah yang menjadi tumpuan bagi tiang-tiang kayu. Ketika gempa dahsyat terjadi, tiang tersebut tidak mudah patah karena tiang tersebut mengikuti gaya horizontal gempa. Kuncinya terdapat pada kelenturan atau fleksibilitas struktur atas dan bawah, sehingga bangunan mengikuti arah getaran gempa.

Agar pengaruh gempa bisa diredam, dibuat tiang menyilang (diwa) yang berfungsi sebagai penyangga rumah dan penguat. Omo Hada sangat cocok dibangun di sekitar gunung api karena fungsi diwa juga dimaksudkan untuk memperkuat terpaan angin di dataran tinggi yang memiliki angin kencang. Diwa tidak ditancapkan di tanah, tetapi ditempatkan di atas batu keras.

Omo Hada menjadi fenomena menarik karena tetap tegar berdiri di tengah permukiman walaupun ribuan rumah penduduk yang berusia jauh lebih muda dan terbuat dari tembok hancur. Selain membuat struktur bangunan kokoh dan kuat, di luar Omo Hada juga dibuat semacam tempat evakuasi bila bangunan itu roboh digoyang gempa. Karena itu, mereka membuat susunan batu-batu yang cukup luas di pelataran rumah.

Rumah tradisional Nias, dalam tulisan Meyers K. dan Watson. P. yang berjudul Legend, Ritual and Architecture on the Ring of Fire (2008), menjelaskan rumah Nias terdiri dari tiang (enomo) dan balok menyilang (ndriwa) yang saling mengait. Balok-balok itu tidak ditancapkan di dalam tanah, tetapi ditumpukan di atas batu besar, sehingga bersifat dinamis menghadapi gaya geser. Semua sambungan kayu menggunakan teknik pasak, alias tanpa paku, sehingga membuat balok-balok kayu dinamis dan tidak patah ketika terjadi gempa. Sebagai bukti, setelah beberapa kali terjadi gempa di Nias, rumah-rumah adat di Nias masih tetap berdiri.

“Nias itu unik, contohnya adalah Omo Hada, rumah adat yang tahan gempa,” Kata Johannes Hammerle, pendiri Museum Pusaka Nias, sebagaimana dilansir olehdetik.com.Pria berdarah Jerman yang telah lebih dari 30 tahun menetap di Nias ini mengungkapkan banyak hal mengenai rumah adat Omo Hada. Ia menilai keunikan rumah tradisional tahan gempa ala Nias ini terletak pada letak tiang – tiang penyangga rumah yang dibuat tidak beraturan. Menurutnya hal inilah yang justru menyebabkan Omo Hada menjadi tahan gempa.

Seperti kabanyakan rumah adat tradisional lainnya, Omo Hada didominasi oleh kayu. Ruangan di dalamnya terbilang cukup luas yang terdiri dari ruang tamu dan beberapa kamar. Selain itu, rumah tradisional tahan gempa ini juga dilengkapi dengan sebuah lubang pengaturan cahaya di bagian atap yang bisa dibuka-tutup.

Omo Hada asli tidak menggunakan paku, melainkan pena dan pasak kayu, sebagaimana rumah bongkar pasang. Bahan kayu yang digunakan merupakan pilihan, diperoleh dari hutan-hutan di Nias. “Sekarang susah mencari kayu-kayu pilihan untuk membangun rumah adat, sudah habis dari hutan,” ungkap Zebua. Syukurlah, rumbia untuk atap rumah masih dapat dibuat dari nyiur sehingga bumbungannya tetap tampak unik. Bumbungan kelihatan jadi semakin unik dengan adanya satu hingga dua tuwu zago, yaitu jendela di bagian atap sebagai ventilasi dan sumber cahaya bagi rumah. Tuwu zago ini terdapat di atap bagian depan dan belakang bumbungan.

Tiang Kayu dan Simbol Omo Hada

Setiap Omo Hada memiliki enam tiang utama yang menyangga seluruh bangunan. Empat tiang tampak di ruang tengah rumah, sedang dua tiang lagi tertutup oleh papan dinding kamar utama. Dua tiang di tengah rumah itu disebut simalambuo berupa kayu bulat yang menjulang dari dasar hingga ke puncak rumah. Dua tiang lagi adalah manaba berasal dari pohon berkayu keras dipahat empatsegi, demikian pula dua tiang yang berada di dalam kamar utama. Setiap tiang mempunyai lebar dan panjang tertentu satu dengan lainnya. “Semakin lebar jarak antara tiang simalambuo dengan tiang manaba maka semakin berpengaruhlah si pemilik rumah,” ungkap Ya’aro Zebua lagi.

Rumah-rumah adat di Nias juga tidak memiliki jendela. Sekelilingnya hanya diberi teralis kayu tanpa dinding, sehingga setiap orang di luar rumah dapat mengetahui siapa yang berada di dalamnya. Menurut Zebua, desain ini menandakan orang Nias bersikap terbuka, jadi siapa pun di desa dapat mengetahui acara-acara di dalam rumah, terutama yang berkaitan dengan adat dan masalah masyarakat setempat. Biasanya pemilik rumah bersama ketua adat duduk di bangku memanjang di atas lantai yang lebih tinggi - disebut sanuhe - sambil bersandar ke kayu-kayu teralis, sedangkan yang lainnya duduk di lantai lebih rendah atau disebut sanari. Setiap acara adat akan berlangsung di dalam rumah, terlebih dulu seisi kampung diundang dengan membunyikan faritia (gong) yang tergantung di tengah rumah. Faritia di rumah adat Nias Selatan dilengkapi oleh fondrahi, yaitu tambur besar sebagaimana terlihat di omo sebua - rumah besar untuk raja dan bangsawan - di Desa Bawomatoluo, Teluk Dalam. Segi artistik juga menjadi perhatian dalam pembangunan Omo Hada. Banyak kayu berukir menghias interior dan eksterior rumah. Ini menandakan orang Nias mempunyai rasa seni tinggi.

Kayu Elastis Penahan Gempa

Mengapa Omo Hada tak rubuh saat gempa? Ya’aro Zebua, seorang pemerhati budaya Nias mengatakan kayu-kayu yang digunakan untuk rumah mereka bersifat elastis. "Jadi saat gempa rumah pun 'main' (ikut bergerak) sesuai guncangan bumi.” Tetapi, diakuinya, gerakan-gerakan itu telah membuat posisi tiang-tiang rumah bergeser, sehingga tampak miring. Selain itu, dia mengungkapkan, umumnya atap di puncak bumbungan mengalami kerusakan walaupun tak begitu berarti.

Rumah-rumah di Nias bagian utara, seperti Desa Tumori, umumnya disangga oleh balok-balok kayu berbentuk letter X yang disebut diwa. Diwa menahan lantai rumah di bagian kolong, selain ada pula siloto yang berupa kayu panjang yang menempel di bagian bawah papan lantai rumah tersebut. Siloto langsung menahan lantai rumah, dan merupakan bagian kayu yang paling elastis. Ada juga gohomo, yaitu kayu-kayu yang tegak lurus menopang dan memagari seluruh kolong rumah, sehingga Omo Hada semakin kokoh sekaligus elastis. Gohomo berada di bagian terluar pada kolong rumah, sedangkan siloto dan diwa berada di bagian dalamnya.

Di kolong rumah-rumah tradisional Nias juga diisi dengan batu dan tumpukan kayu di antara tiang-tiang yang sekilas bersilang sengkarut itu. Tujuannya, mempertahankan keseimbangan ketika gempa datang. Kekuatan gaya kinetik gempa dalam bentuk gerakan horisontal dan vertikal dari gempa yang mampu merubuhkan rumah, akan diredam oleh tumpukan ini karena fungsinya yang memperkuat struktur bagian bawah.

Penyangga V di Bawomatoluo

Kalau balok penyangga Omo Hada di kawasan Nias utara berbentuk letter X, maka di Nias Selatan berbentuk letter V. Bentuk itu tampak di rumah-rumah desa tradisional, seperti Bawomatoluo, Hilinawalu Mazingo, Hilinawalu Fao, dan sebagainya. Rumah adat di sini pun tidak oval, melainkan berbentuk persegi empat mulai dari atap, hingga keseluruhan bagian bangunan.

Bawomatoluo adalah desa tradisional berusia ratusan tahun. Desa ini paling lengkap menyimpan ornamen tradisional Nias Selatan, berada sekitar 8 kilometer dari Teluk Dalam. Setiap orang yang ingin memasuki desa mesti menaiki 91 anak tangga terbuat dari batu hasil pahatan para ahli Bawomatoluo.

Seperti desa adat Nias lainnya, Bawomataluo juga dibangun di atas puncak bukit.  Kegemaran berperang antar-suku di Nias, membuat mereka harus merencanakan lokasi permukiman sebaik mungkin, dimana mereka bisa mengawasi pergerakan musuh dengan mudah. Dan dataran tinggi seperti bukit atau gunung adalah pilihan utama. Tidak tergambar dengan jelas adanya bencana tsunami sebagai alasan orang Nias membangun kampung di atas bukit dan pindah dari pantai, tetapi bencana gempa yang terus menerus datang sangat jelas mempengaruhi arsitektur rumah adat mereka. Selain omo sebua, seorang raja atau ketua adat Nias biasanya tinggal di rumah yang paling besar. Mereka menyebutnya Omo Sebua.

Omo Sebua adalah rumah yang khusus dibangun untuk kepala adat desa dengan tiang-tiang besar dari kayu besi dan atap yang tinggi. Omo Sebua didesain secara khusus untuk melindungi penghuninya daripada serangan pada saat terjadinya perang suku pada zaman dahulu. Akses masuk ke rumah hanyalah tangga kecil yang dilengkapi pintu jebakan. Bentuk atap rumah yang sangat curam dapat mencapai tinggi 16 meter. Selain digunakan untuk berlindung dari serangan musuh, Omo Sebua pun diketahui tahan terhadap goncangan gempa bumi.

Di Bawomataluo, sebuah Omo Sebua dibangun di pusat desa. Di depan rumah raja itu, di halaman sebelah kiri tersusun batu segi empat setinggi dua meter dengan pijakan sekitar 45 sentimeter di bawahnya. Batu ini menjadi tempat para prajurit Bawomatoluo untuk memperlihatkan kemampuan lompat mereka yang kini menjadi ikon pariwisata Nias: lompat batu. Lalu persis di halaman depan rumah terdapat batu-batu besar yang terpahat rapi untuk duduk raja beserta tetua adat atau tamu-tamu desa.

Ciri asli juga masih tampak dari pintu masuk Omo Sebua di Bawomatoluo. Setiap orang mesti masuk melalui pintu dari bagian bawah kolong rumah. Interior rumah pun masih terjaga, dimana dapur terdapat di ruangan tengah dan satu lagi di bagian belakang. Posisi dapur di ruangan tengah menandakan bahwa Omo Sebua adalah milik semua rakyat desa ini.

Ornamen Nias di Omo Sebua

Ornamen-ornamen yang melambangkan kekayaan budaya terpasang di dinding Omo Sebua, seperti tambur besar fondrahi, rangkaian puluhan tengkorak babi, peralatan perang khas Nias, dan aneka hiasan lainnya. Bangunan Omo Sebua yang lebih besar, berlantai tinggi, dan berada di tengah desa, membuat raja atau kepala suku dapat mengamati seluruh desa tanpa keluar dari rumah. Tetapi kalau dia ingin mengumpulkan rakyatnya maka cukup dengan memukul fondrahi. Omo Sebua yang ada di Bawomatoluo paling unik dan dapat menggambarkan kekayaan budaya Nias.  Salah satu ornamen itu terlihat pada seni pahat batu yang juga unik di desa ini, mulai dari tangga masuk, lompat batu hingga aneka perkakas bebatuan di halaman Omo Sebua.

Dulu, untuk membangun Omo Sebua saja ada tujuh tahap yang mesti dilampaui oleh leluhur mereka, mulai dari pembangunan fondasi hingga ke atap. Setiap tahap biasanya diselesaikan dengan mengadakan upacara yang mengorbankan puluhan ekor babi. Maka sampai tahap terakhir ada ratusan ekor hewan itu dikorbankan untuk membangun satu Omo Sebua. Semua tengkorak kepala babi itu dipajangkan di bagian dalam rumah untuk menunjukkan kebesaran Omo Sebua.

Jalur Evakuasi

Rumah-rumah adat di Desa Bawomataluo juga dibangun dengan memperhitungkan upaya meloloskan diri saat bencana kebakaran atau gempa yang terlalu besar yang dapat menghabiskan atau merubuhkan rumah. Rumah-rumah itu memiliki lorong dengan tetangga di sebelahnya  sebagai jalan keluar rumah yang dapat dipakai oleh beberapa keluarga yang saling berdekatan. Masyarakat tidak meletakkan barang apapun di lorong ini agar tak menghambat saat keluar dari rumah menuju ke jalan desa.

Di depan rumah-rumah inilah biasanya terdapat ruang yang sengaja dikosongkan sebagai lokasi evakuasi sementara untuk barang-barang dan anggota keluarga dalam keadaan darurat. Ruang yang terletak tepat di bawah rumah bagian depan ini juga dipakai untuk berkumpul dan bersosialisasi antar-tetangga dan masih terlindungi dari panas atau hujan oleh bagian rumah yang menjorok ke depan. Di depan ruang evakuasi, dibangun parit memanjang untuk limpasan air hujan. Di depan parit terbentanglah jalan utama desa yang merupakan akses keluar masuk untuk seluruh penduduk dan orang dari luar desa. Adanya lokasi evakuasi sementara ini, mempermudah bila masyarakat ingin segera melakukan evakuasi keluar desa karena mereka tidak terhalang oleh barang-barang yang diletakkan di jalan desa. 

Kearifan lokal yang mewujud rumah tradisional, seperti halnya yang kita temukan di Nias telah terbukti memiliki perspektif pada kebencanaan. Adalah tantangan kita kemudian untuk ingin seperti apa diterapkan dan dikembangkan dengan berbagai penyesuaian pada konteks kekinian serta adaptasi dengan aktivitas masyarakat di desa dan kota saat ini. Tentu saja, rumah-rumah tradisional menjadi tradisi di setiap masyarakat adat di Nusantara. Maka, pemetaan terhadap hal ini pun seharusnya juga tak luput dari perhatian sebelumnya mengembangkannya lebih lanjut, terutama dalam mewujudkan cita-cita pada masyarakat tangguh bencana yang sebetulnya sudah lama diterapkan oleh leluhur kita.

*Tulisan ini merupakan bagian dari Bab Kearifan Lokal Nias pada buku Kearifan Lokal Indonesia untuk PRB yang ditulis bersama oleh Nurdiyansah Dalidjo dan Trinirmalaningrum dan diterbitkan mealui kerja sama dengan BNPB.

Partners