1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Ketika Pemuda Bicara Bencana

Banyak hal telah dilalui oleh Jakarta sebagai sebuah metropolitan dan ibukota. Termasuk di antaranya, tentu adalah serangkaian kejadian bencana dan ancaman yang mungkin masih akan mengiringi perkembangannya menjadi kota yang terus membangun dan melangkah maju. Ada banyak hal telah dilalui untuk bertahan dari berbagai peristiwa, begitu pula ada lebih banyak kerja nyata yang selalu terus diupayakan untuk bersama membangun kota yang tangguh bencana.

Read more...

Workshop Jurnalisme Bencana Bersama Pemuda

Melihatnya pentingnya peran dan partisipasi pemuda dalam hal pengelolaan bencana, Perkumpulan SKALA (SKALA) bersama DisasterChannel.co, Open Data Labs, dan Planas PRB (Pengurangan Risiko Bencana) menyelanggarakan workshop jurnalistik bagi para pemuda selama dua hari dengan tema “Jurnalisme Bencana Berbasis Data” di Jakarta pada Rabu, 09 November dan Senin, 14 November 2016 di Jakarta.

Read more...

Peran dan Tantangan Sektor Privat dalam Bencana

Kemitraan dan sinergi menjadi kata kunci ketika kita membicarakan tentang kolaborasi multi-pihak terhadap kebencanaan, termasuk di dalamnya adalah keterlibatan sektor privat. Ada begitu banyak potensi yang bisa digali dengan melibatkan dunia usaha terkait dengan upaya pengurangan risiko bencana (PRB) maupun manajemen bencana. Namun juga tak sedikit tantangan yang kita hadapai dalam mengoptimalkan peran-peran strategis mereka untuk bekerja sama.

Read more...

Sektor Privat Merespon Isu Global

Pada Rabu, 05 Oktober 2016 lalu, Perkumpulan SKALA (SKALA) menyelenggarakan sebuah workshop bertajuk “Sektor Privat Merespon Isu Global: Pembelajaran Indonesia dan Jepang.” Kegiatan tersebut merupakan upaya yang dilakukan SKALA untuk membuka ruang dialog dan potensi kemitraan yang lebih baik bagi lembaga usaha bersama dengan akademisi, sektor pemerintah, dan organisasi masyarakat sipil, terutama di bidang kebencanaan.

Read more...

Ada Apa di Balik Peristiwa Karhutla 2015?

Peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kabut asap yang terjadi di tahun 2015 lalu masih menyisakan urusan yang belum tuntas. Ada banyak perkembangan sekaligus temuan-temuan terbaru sebagai catatan penting untuk pula diketahui sekaligus diperbincangkan kembali oleh publik.

Salah satu catatan penting dari peristiwa karhutla yang terjadi pada periode 1 Juni sampai 31 Oktober 2015, adalah besarnya jumlah kerugian yang dialami negara dan masyarakat. Negara diprediksi mengalami kerugian sebesar Rp 221 triliun. Angka tersebut merupakan perhitungan yang dilakukan oleh Bank Dunia dan dikutip secara resmi oleh Pemerintah Indonesia sebagai acuan. Sementara itu, BNPB mencatat terdapat sebanyak 24 korban tewas, lebih dari 600 ribu orang menderita ISPA, dan sekitar 60 juta orang terpapar asap. Kerugian tersebut berimbas pada seluruh sektor di bidang-bidang strategis, antara lain sektor kehutanan dan pertanian, kesehatan, pendidikan, pariwisata, bisnis, dan transportasi/perhubungan, yang memberikan efek langsung terhadap situasi sosial, ekonomi, dan lingkungan di Indonesia. Namun di balik kerugian tersebut, ada pula keuntungan ekonomi dan politik yang dinikmati oleh segelintir pihak, yaitu para elit dan korporasi.

Perkumpulan Skala melihat peristiwa karhutla dan kabut asap 2015 yang telah terlewat sebagai sebuah momentum. Sebelum peristiwa karhutla terjadi, selama berlangsungnya karhutla dan kabut asap, hingga beberapa saat pasca-karhutla dan kabut asap tersebut, ada begitu banyak data dan informasi alternatif yang dihimpun oleh sejumlah lembaga, baik itu lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil (OMS) dan organisasi masyarakat (ormas), lembaga riset, media massa, maupun perkumpulan atau asosiasi. Selain itu, perjalanan proses hukum terhadap kasus-kasus terkait karhutla dan kabut asap terus berjalan. Situasi itu menjadi menarik dan penting untuk dilihat dan dicatat sebagai pembelajaran yang amat berharga bagi persoalan tata kelola hutan dan lahan di Indonesia secara umum, khususnya masalah karhutla dan kabut asap yang terus terjadi setiap tahunnya.

“Buku direncakan ditulis dengan tujuan untuk menuliskan kompleksitas permasalahan karhutla dan kabut asap di tahun 2015 dengan pendekatan atau gaya penulisan ilmiah populer. Pendekatan tersebut dipilih agar buku kelak dapat dibaca dengan mudah oleh publik secara luas sekaligus memetik pembelajaran dalam menghadapi kemungkinan karhutla ke depan,” ungkap Trinirmalaningrum, Direktur Perkumpulan Skala.

Peluncuran Buku & Diskusi Di Balik Tragedi Karhutla

Melalui dukungan dari The Asia Foundation (TAF), Perkumpuan Skala menginisiasi sebuah kegiatan terhadap penyusunan buku berjudul Di Balik Tragedi Asap: Catatan Kebakaran Hutan dan Lahan 2015. Terdapat serangkaian proses yang dilalui untuk menyusun dan menuntaskan buku tersebut. Kami memulainya dengan proses diskusi kelompok terfokus (FGD) sebanyak dua kali di Jakarta dengan mengundang perwakilan organisasi maupun individu ahli yang bergerak langsung pada peristiwa karhutla dan kabut asap 2015. Selain FGD tersebut, kami juga melakukan korespondensi dengan jaringan wartawan yang berada di lapangan (Kalimantan dan Sumatera) untuk bisa memberikan kabar terbaru serta mengumpulkan beragam hasil riset dan kajian yang telah dilakukan oleh banyak lembaga.

Hanya dalam waktu sekitar tiga bulan, hampir keseluruhan proses tersebut dilalui. Pada Jumat, 29 April 2016, buku pun resmi diluncurkan sekaligus pada kesempatan yang sama adalah penyelenggaraan diskusi publik yang bertempat di Bakoel Koffie, Jl. Cikini Raya, Jakarta. Dengan konsep diskusi santai, diskusi dihadiri Roy Salam (Direktur Eksekutif IBC/Indonesia Budget Center), Edo Rakhman (Manajer Kampanye WALHI Nasional), dan Kemal Annas (KLHK/Kemenenterian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) sebagai pembicara diskusi. Acara dibuka oleh Trinirmalaningrum selaku Direktur Perkumpulan Skala, sementara diskusi dipandu oleh Nurdiyansah Dalidjo mewakili Perkumpulan Skala dan tim penulis buku.

Selain memaparkan tentang kerugian yang dialami oleh negara dan masyarakat secara terperinci, buku berjudul Di Balik Tragedi Asap: Catatan Kebakaran Hutan dan Lahan 2015 berupaya memotret dan mengurai kompleksitas dari masalah karhutla dan kabut asap di Indonesia. Pada bagian awal pembahasan, buku ini memulainya dengan menggali akar persoalan karhutla di Indonesia, mencari tahu siapa yang berwenang dan bertanggung jawab, menelisik politik anggaran, hingga mencari tahu siapa yang sebenarnya diuntungkan dan dirugikan.

Pada bab selanjutnya, buku akan mengulas secara detil kerugian dan kerusakan untuk berbagai sektor strategis, antara lain sektor pertanian dan kehutanan, kesehatan, pendidikan, transportasi, pariwisata, dan bisnis.

Buku ini juga memberikan ruang khusus dan mendalam untuk catatan kerugian pada aspek lingkungan, menyoroti situasi masyarakat lokal dan masyarakat adat sebagai korban, serta mencatat pengalaman dan pembelajaran dari partisipasi masyarakat sipil dalam terlibat di hampir seluruh proses penanganan karhutla dan kabut asap sebagai respon dari lambannya penanganan peristiwa tersebut. Gerakan masyarakat ini secara aktif menggalang dukungan bagi proses evakuasi selama bencana, pengumpulan data hot spots untuk disebarkan ke publik, membangun posko pengaduan, hingga kampanye, advokasi, dan pelaporan kasus, baik kasus pidana, perdata, maupun administrasi.

Secara tegas kita bisa katakan bahwa peristiwa karhutla dan kabut asap tahun 2015 lalu telah menunjukkan potret dari buruknya tata kelola hutan dan lahan. Tata kelola yang buruk ini terkait dengan sistem perizinan industri berbasis hutan dan lahan yang tidak transparan dan akuntabel dan tidak terintegrasi. Akibatnya, izin-izin pun menjadi sarat dengan praktik korupsi dan tumpang tindih di lapangan. Tentu bukan lagi menjadi rahasia umum bahwa izin-izin yang diterbitkan ini bersifat transaksional dan melibatkan elit di daerah dan pusat serta korporasi.

Pada bagian akhir, buku ini akan memaparkan lemahnya penegakan hukum di mana hukum belum mampu menjerat korporasi pembakar hutan dan lahan atau perusak lingkungan. Apa penyebabnya dan seperti apakah proses yang tengah berlagsung dan masih terus bergulir hingga kini?

Pada beberapa pekan setelah buku diluncurkan, buku mendapatkan respon dan sambutan positif dari publik, terutama media massa. Tercatat berbagai media nasional turut membahas kembali isu karhutla dan kabut asap, termasuk publikasi terhadap review (resensi) buku Di Balik Tragedi Asap, antara lain TEMPO, The Jakarta Post, KOMPAS, Republika, Berita Jakarta, Global News, Bisnis Indonesia, Investor Daily, DisasterChannel.com, BuanaWarta.com, dan lain-lain.

Maka, meski karhutla dan kabut asap tahun 2015 telah berlalu, hadirnya buku ini akan mengingatkan kita kembali bahwa kita menolak untuk lupa pada peristiwa karhutla dan kabut asap yang telah menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terburuk di tahun itu! 

Partners