1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Pentingnya Kearifan Lokal Terhadap Kebencanaan

Secara geografis, Indonesia berada pada cincin api atau ring of fire yang memiliki potensi besar bencana alam. Ring of fire merupakan rangkaian lempeng atau patahan besar yang menjadi ancaman potensial gempa. Posisinya mengelilingi perairan Indonesia mulai dari Laut Andaman yang menjalar dari atas pesisir Sumatera hingga ke timur. Lempeng “Semangka” di sepanjang daratan pantai barat Sumatera dan berakhir di Selat Sunda. Kemudian, diakhiri dengan rangkaian puluhan gunung berapi aktif di Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, hingga Alor.

Melihat dari bencana yang telah terjadi, Indonesia harus meningkatkan pengurangan risiko bencana. Dalam hal ini harus dimulai dari yang paling dasar, yaitu mengoptimalkan kearifan lokal yang dipunyai di hampir setiap daerah di Indonesia. Masyarakat adat di Nusantara telah sejak dulu memiliki pengetahuan atau kearifan lokal dan praktik baik yang relevan dan amat bermanfaat untuk menghadapi bencana seperti gempa, banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya. Walaupun perkembangan teknologi sudah meningkat dalam menghadapi bencana, akan tetapi inovasi tersebut perlu diselaraskan dengan kearifan lokal, seperti membaca isyarat dalam membaca tanda-tanda alam.

Dalam perspektif kearifan lokal, masyarakat adat mengamati satwa sebagai fenomena alam yang kemudian jadi petunjuk atau tanda datangnya bencana. Dahulu kala, masyarakat di perkampungan sangat bersahabat dengan alam di mana terjadi interaksi simbiosis mutualisme. Dengan menjaga lingkungan, mereka bisa berdamai dan hidup selaras dengan alam. Ketika akan terjadi suatu bencana, alam memberi kode-kode. Kode-kode tersebut ditafsirkan oleh masyarakat sebagai isyarat akan datangnya bencana.

Bencana alam juga dapat dilihat dari gerak-gerik hewan yang tidak biasa. Misalnya ada kearifan terkait ikan lele yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap pergerakan tanah, termasuk gempa bumi. Bila suatu getaran dalam tanah terjadi dan membentuk gempa, maka lele-lele akan berkecipuk aktif dan mengibas-ibaskan air sebelum datangnya gempa. Bukan hanya hewan, alam juga dapat memberi kode kepada masyarakat jika terjadi suatu bencana, seperti terdengar suara gemuruh di laut, kemudian bersahutan dengan suara gemuruh di pegunungan. Dengan tanda atau isyarat tersebut, masyarakat setempat bisa menafsirkan akan terjadi banjir besar.

Kearifan Lokal Aceh

Aceh adalah salah satu  kota yang masyarakatnya sangat kental dengan adat. Bagi mereka adat merupakan kearifan yang harus dijaga, dilestarikan, dan diterapkan sebagai bagian dari kehidupan. Tingginya nilai-nilai adat dalam masyarakat Aceh terlihat dalam bercocok tanam. Para petani di Aceh memiliki tahapan-tahapan sendiri yang disesuaikan dengan kalender adat yang disebut keuneunong atau keunong. Dalam melaksanakan pertanian di sawah atau dikenal dengan sebutan meugo blang, ada petuah orang Aceh (hadih maja) yang berbunyi “keunong siblah tabu jareung, keunong sikureung tabu rata, keunong tujoh pih jeut mantong, keunong limong ulat seuba.” Petuah itu bercerita tentang kapan mulai menabur benih dan kapan harusnya tidak dilakukan.

Petani di Aceh cukup paham dengan petuah ini. Dalam pembukaan lahan untuk bercocok tanam, di Aceh terdapat sejumlah aturan yang sudah hidup dan berkembang sejak zaman dahulu. Aturan tersebut seperti tata cara penebangan kayu hutan yang tidak boleh menebang kayu-kayu besar yang banyak merugikan alam maupun masyarakat. Hal ini sudah menjadi pantangan umum yang apabila dilanggar dapat merugikan orang banyak. Sayangnya, kearifan seperti ini tak lagi dipahami generasi muda sehingga kini hutan Aceh semakin menghadapi tantangan terkait pelestariannya dan juga potensi pada ancaman bencana baru.

Kearifan lokal sangat layak untuk dikaji kembali, digali, dan dikembangkan dalam kehidupan masyarakat yang bertujuan sebagai salah satu upaya pengurangan risiko bencana yang efektif. Kearifan lokal yang pada mulanya dikembangkan oleh masyarakat setempat, demi masyarakat, dan untuk masyarakat. Masyarakat adat dan masyarakat lokal lebih memahami lingkungan setempatnya. Maka yang diperlukan, adalah bagaimana kearifan tersebut dapat dimanfaatkan secara global, yaitu memperluas manfaat dan pengembangannya.

Partners