1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Sektor Privat Merespon Isu Global

Usai dibuka oleh Trinirmalaningrum sebagai Direktur SKALA, pidato pembuka juga turut disampaikan oleh Sutopo Poerwonugroho (Kepala Pusat Data dan Informasi dan Humas BNPB). Dalam sambutannya, ia menegaskan kembali situasi Indonesia saat ini di mana tantangan terhadap potensi bencana, semakin meningkat.

“Dalam berbagai peraturan tentang penyelenggaraan penanggulangan bencana, belum ada peran signifikan dari lembaga usaha untuk penanggulangan bencana. Peran lembaga usaha belum kita optimalkan!” ucap Sutopo. Inisiatif yang sudah dilakukan oleh lembaga usaha selama ini memang berkontribusi besar dan amat relevan, namun sayangnya belum terbangun sinergi bersama yang optimal.

Workshop yang dilangsungkan selama setengah hari di Grand Cemara Hotel, Jakarta tersebut dipandu oleh Victor Rembeth (praktisi/pemerhati lembaga usaha dan turut menghadirkan para pembicara, yaitu Taruli Aritonang (Manajer CSR PT HM Sampoerna Tbk.), Agus Purnomo (Direktur SMART-Sinar Mas Agro Resources and Technology), dan Jibiki Yasuhito (IRIDeS-Tohoku University). Setiap pembicara menyajikan paparan berupa pengalaman dan pembelajaran yang telah dialami dan berdiskusi tentang persoalan global yang kita hadapi, terutama kebencanaan.

Pengalaman menarik adalah apa yang dilakukan Sinar Mas terhadap tata kelola perkebunan sawit seluas 500 ribu hektar. Agus Purnomo menyatakan bahwa pihaknya sudah tidak membakar lahan sejak 1997 dan tidak melakukan pembangunan pada lahan gambut pada tahun 2010.

“Terkait dengan beberapa bentuk pelayanan yang berhubungan dengan bencana, perusahaan kami untuk bagian kesehatan punya dua unit besar. Ada rumah sakit besar di dekat kebun, ada juga rumah sakit di Riau dan di BSD. Untuk bagian ini dikelola terpisah dan merupakan bagian dari komitmen pemilik perusahaan. Dalam penanganan hutan dan lahan, tahun lalu kebakaran kebun kami hanya 0,5% yang terbakar. Karena kalau dalam lahan gambut airnya dijaga, kemungkinan itu sangat kecil. Upaya untuk mencegah kita bersama masyarakat dengan 17 desa yang tahun lalu terkena kebakaran. Dan kami bertanggung jawab untuk mencegah terjadi lagi. Kami juga membentuk tim patroli dan pemadaman api, kalau apinya masih kecil. Mereka diperlengkapi alat dan insentif,” ungkapnya.

Taruli Aritonang juga menyampaikan hal yang menarik dengan mengintegrasikan rantai pasok bisnis mereka terhadap respon pada berbagai persoalan. “Sampoerna mempunyai mekanisme support internal yang memadai. Kami hanya memiliki pabrik di Jawa Timur dan Jawa Barat, tapi ada kantor area di 106 kota. Kami mendirikan Sampoerna Rescue Team, terdiri dari berbagai kalangan. Juga mengundang pihak lain untuk melatih guna membantu lingkungan yang terjadi bencana. Lokasinya memang ada di Sukorejo, dan ada pabrik kami. Kalau terjadi apa-apa di sana, kami juga harus siap menghadapi,” papar perempuan yang akrab disapa Uli ketika melakukan pemaparan.

Sedangkan dari pihak akademisi, JIbiki Yasuhito membuka ruang pada peluang kolaborasi yang berlandaskan pada terapan inovasi ilmu pengetahuan. Mewakili sebuah universitas yang memiliki nama besar terhadap riset-riset seputar bencana, Jibiki memaparkan pentingnya kolaborasi, terutama bagi sektor privat, untuk mempererat kemitraan dengan pihak kampus. Kerja-kerja yang dilakukan bukan hanya meneliti atau mengkaji di belakang meja atau laboratorium. Assistant professor dari Tohoku University itu juga bercerita pengalaman bagaimana akademisi bekerja dengan mendampingi masyarakat lokal maupun korban bencana dalam upaya bersama membangun kembali beberapa kawasan di Jepang yang terkena dampak radiasi nuklir dan tsunami.

Kolaborasi menjadi kata kunci ketika beragam kelompok berkepentingan mencoba berdiskusi tentang isu-isu yang kini menjadi perhatian. Selain menjawab banyak tantangan terkait koordinasi, para audiens juga turut menyinggung topik mengenai sumber daya.

“Apa yang bisa diberikan oleh sektor privat? Jangan hanya bicara soal uang, tapi juga sebetulnya yang bisa di-eksplore dalam kerja sama, adalah expertist-nya. Sehingga lembaga usaha bicara soal corporate sustainability sesuai dengan sektor usaha dari perusahaannya,” ungkap Victor Rembeth dalam memandu diskusi.

Praktisi dan konsultan tersebut menutup diskusi dengan menyimpulkan bahwa resources yang besar adalah community, karyawan, dan stakeholders perusahaan. “Kalau bencana terjadi, perusahaan juga akan terdampak. Sumber daya paling besar dalam perusahaan salah satunya adalah karyawan. Disaster adalah urusan untuk semua pihak, bukan hanya pemerintah. Di Jenewa kita mengatakan keuntungan yang didapat perusahaan, harus yang bisa berbagi bagi semua orang,” ucapnya.

Partners