1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Ketika Pemuda Bicara Bencana

Tetapi fakta masih menunjukkan bahwa kesadaran warga Jakarta masih jauh dari apa yang dianggap ideal untuk bisa disebut sebagai warga yang tangguh bencana. Masyarakat secara umum masih belum memiliki kesadaran dan pemahaman yang cukup terhadap peluang bencana yang bisa terjadi. Hal itu tampak dari berbagai data yang menunjukkan betapa serangkaian kejadian bencana kerap berdampak pada kerusakan dan kerugian yang tak bisa dianggap remeh.

Ada tiga bencana yang penting untuk mendapat perhatian kita terhadap Jakarta, yaitu banjir, kebakaran, dan gempa bumi. Menurut BPBD DKI, sepanjang Januari-Oktober 2016, jumlah wilayah terdampak banjir mencapai 797 RW dan 1.837 RT. Tercatat lebih dari 200 ribu warga Jakarta terdampak banjir dengan jumlah pengungsi mencapai 7.030 orang. Sementara pada Februari-Agustus 2016, terdapat 327 kejadian kebakaran dan 303 di antaranya disebabkan oleh korsleting listrik. Jumlah korban mencapai 6 orang meninggal, 28 orang luka, dan 1.966 menjadi pengungsi. Prediksi kerugian terhitung sebesar Rp 111,5 miliar. Untuk potensi gempa, menurut penelitian yang dilakukan oleh pakar gempa bumi dari ITB, 75% bangunan di Jakarta mempunyai potensi rusak, bahkan rubuh karena dibangun dengan material yang tidak sesuai spesifikasi.

Tentu di antara ancaman tersebut, akan selalu terdapat peluang, salah satunya adalah dengan melihat peluang strategis pada peran dan partisipasi anak muda terhadap upaya pengurangan risiko bencana (PRB). Anak muda adalah bagian penting dari setiap perencanaan maupun proses.

Di Jakarta, berbagai kelompok anak muda sebetulnya telah melakukan banyak kerja nyata terkait pengurangan risiko bencana (PRB) maupun mitigasi bencana. Mereka adalah organisasi atau komunitas yang sebagian besar keanggotaannya berbasis pada skala kampus/universitas, minat, lingkungan sekitar (karang taruna), dan lainnya. Namun, umumnya kegiatan yang diinisasi oleh anak muda dalam isu kebencanaan saat ini masih dilakukan secara temporal, sporadis, dan sektoral. Selain itu anak muda juga masih kurang mendapatkan tempat dalam proses pengambilan kebijakan. Pemuda hanya dilihat sebagai objek dari kebijakan yang ada dan dalam situasi tanggap darurat, pemuda kerap dilihat sebagai bagian dari korban atau aktor pasif. Padahal di sisi lain, pemuda memliki potensi yang begitu besar untuk membawa perubahan apabila dilibatkan dalam setiap proses pengambilan kebijakan. Lalu, bagaimana mereka bisa dilihat sebagai solusi masa depan terhadap dorongan pada kesiapsiagaan bencana dan menjadikan Jakarta sebagai kota tangguh bencana?

Perkumpulan SKALA (SKALA) memulainya dengan mengajak kelompok pemuda untuk ikut berjalan pada gerbong yang sama. Sejak pertengahan tahun 2016, SKALA mencoba untuk memfasilitasi beragam latar belakang anak muda di Jakarta dan sekitarnya untuk bisa duduk bersama. Mereka adalah para pelajar, mahasiswa, relawan, pekerja muda, dan lain-lain dengan bidang yang berbeda. Semua berawal dari keinginan anak muda sendiri untuk mengorganisir diri dan membangun jejaring bersama di kalangan pemuda terkait kerja-kerja bencana di Jakarta dan sekitarnya.

Melalui program kampanye “JKT Safe City,” SKALA melibatkan anak muda dalam upaya peningkatan kapasitas dan partisipasi pemuda melalui beragam kegiatan, mulai dari pelatihan penulisan jurnalistik berbasis data, pendampingan keorganisasian, hingga pelibatan pemuda dalam jejaring dan berbagai akses kebencanaan. Mereka menjadi mitra strategis dalam kampanye secara bersama.

Momentum tersebut akhirnya terjadi pada dialog publik bertema “Pemuda Bicara Bencana” yang diselenggarakan oleh SKALA melalui kemitraan dengan Open Data Lab. Acara tersebut berlangsung pada Rabu, 25 Januari 2017 bertempat di Bakoel Koffie, Jakarta. Diskusi menghadirkan para pembicara, antara lain Lilik Kurniawan dari BNPB, Basuki Rakhmat dari BPBD DKI Jakarta, dan Fajar Sidiq sebagai Koordinator IYDRR (Indonesian Youth on DRR). Diskusi turut dihadiri oleh sekitar 60 partisipan yang sebagian besar adalah anak muda.

“Pemuda merepresentasikan seperempat populasi di Indonesia. Namun, potensi tersebut masih belum termanfaatkan dengan baik. Pemuda memiliki peran strategis dalam mengisi kesenjangan dalam isu kebencanaan dan pemerintah perlu memberikan ruang yang lebih besar bagi pemuda untuk terlibat dalam upaya PRB,” ungkap Fajar pada paparannya.

Senada dengan mahasiswa UNHAN tersebut, Lilik Kurniawan dan Basuki Rakhmat pun melihat hal yang serupa. Kedua pembicara yang mewakili lembaga paling penting terkait bencana pada level nasional dan Provinsi DKI Jakarta tersebut membuka peluang amat besar bagi keterlibatan anak muda. Diakui oleh keduanya, baik BNPB maupun BPBD DKI Jakarta yang sebelumnya telah memulai kerja-kerja dengan pemuda, menyambut baik untuk kerja-kerja kolaborasi lebih erat ke depannya dengan kelompok anak muda untuk isu kebencanaan.

Dialog publik itu adalah rangkaian dari kampanye JKT Safe City di mana di tengah-tengah diskusi, SKALA meluncurkan sebuah halaman website pada portal www.DisasterChannel.co yang didedikasikan bagi kanal open data bencana di Jakarta bersamaan dengan material kampanye berupa visualisasi data (infografis).

Sekaligus di kesempatan yang sama, dialog publik tersebut juga menjadi kesempatan yang dimanfaatkan anak-anak muda untuk meluncurkan forum pemuda di bidang bencana. Pada sore itu, Pemuda Peduli Bencana atau populer disebut sebagai IYDRR secara resmi diluncurkan melalui pembacaan Deklarasi Pemuda Peduli Bencana.

IYDRR adalah forum koordinasi sekaligus organisasi berbasis keanggotaan (individu muda dan organisasi pemuda) yang dibentuk atas inisiatif sejumlah kelompok pemuda yang terdiri dari berbagai elemen dan latar belakang berbeda yang memiliki kepedulian (concern) terhadap isu-isu kebencanaan di Indonesia. IYDRR memiliki visi terhadap terwujudnya generasi tangguh bencana melalui empat program kerja, yaitu peningkatan kapasitas; kampanye dan advokasi; KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi); dan riset dan publikasi.

Ada banyak rencana yang akan dilakukan ke depannya terkait dengan kerja-kerja pemuda untuk isu kebencanaan. Membangun jejaring dan meningkatkan kapasitas adalah bagian penting yang perlu segera ditindaklanjuti oleh kawan-kawan yang tergabung dalam IYDRR.

Partners