1. Skip to Menu
  2. Skip to Content
  3. Skip to Footer
FacebookTwitter

Pembelajaran dari Jakarta Sebagai Kota Cerdas

Konsep Jakarta Smart City merupakan inovasi bagi Jakarta dan merupakan penerapan konsep kota cerdas (smart city) dengan pemanfaatan teknologi dan komunikasi untuk mewujudkan pelayanan masyarakat lebih baik. Melalui Jakarta Smart City, partisipasi masyarakat dan pemerintah dapat dirangkul guna pemanfaatan data, aplikasi, hingga kritikan dengan cara yang relatif mudah dan cepat. Jakarta Smart City memiliki 6 indikator, yaitu Smart Governance (pemerintahan transparan, informatif, dan responsif), Smart Economy (menumbukan produktivitas dengan kewirausahaan dan semangat inovasi), Smart People (peningkatan kualitas SDM dan fasilitas hidup layak), Smart Mobility (penyediaan sistem transportasi dan infrastruktur), Smart Environment (manajemen sumber daya alam yang ramah lingkungan), dan Smart Living (mewujudkan kota sehat dan layak huni).

Pada Kamis, 28 Juli 2016 yang lalu di Jakarta, CIPG (Center for Innovation Policy and Governance) dan Open Data Labs mengadakan sebuah acara di mana mereka memberikan laporan penelitian mengenai Jakarta Smart City dan keterbukaan data. Penelitian dilakukan pada Oktober 2015 sampai Februari 2016 di mana survey ditujukan pada 400 warga Jakarta bersamaan dengan wawancara mendalam dengan aktor-aktor pentingnya.

Sayangnya, menurut hasil penelitian, ternyata lebih dari separuh responden (70%) tidak mengetahui keberadaan Jakarta Smart City. Alasannya adalah kurangnya pemahaman akan manfaat kanal-kanal pengaduan publik yang ada, seperti Waze, Qlue, dan akun Twitter @petajkt. Selain itu, mereka yang menggunakan atau memanfaatkan pun sebagian besar adalah digital native (terpapar Internet) dan pengguna aktif media sosial. Ada banyak dari warga Jakarta, termasuk para pejabat yang bahkan kurang menguasai perkembangan TIK.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa Program Jakarta Smart City (dan kanal-kanalnya) dapat mampu menciptakan sebuah kota cerdas yang sekaligus terbuka (open city) sebab data yang tersedia atau berhasil dihimpun dan diintegrasikan merupakan data dari warga (citizens-generated data), bukan data yang dihasilkan dan diolah oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri (government-generated data). Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa Jakarta masih memerlukan perbaikan tata kelola data dan peningkatan partisipasi warga.

Acara tersebut menghadirkan para pembicara, antara lain Arthur Glenn Maail sebagai research manager, Open Data Lab Jakarta; Maharani Karlina C. H. sebagai research associate, CIPG; Dinita Andriani Putri sebagai operational director, CIPG; dan Setiaji sebagai Kepala Unit Jakarta Smart City dari Pemprov DKI Jakarta.

Pada sesi diskusi, beberapa audiens turut menyinggung soal topik mengenai inovasi TIK terhadap sistem pendidikan, pemanfaatan TIK maupun Program Jakarta Smart City terhadap tata kelola yang lebih baik, penggunaan kata maupun konsep dalam bahasa Inggris yang terlalu dominan, kemitraan dengan sektor privat, dorongan meningkatkan partisipasi publik melalui engagement dengan komunitas dan organisasi masyarakat sipil, hingga pengemasan pada aspek yang menyenangkan. Ada banyak hal mendapat respon positif dari pihak Pemprov DKI, Qlue, maupun Peta Jakarta. Namun sebagian lainnya, juga turut menjadi masukan untuk bisa dipertimbangkan kembali bagi pengembangan program dan konsep Jakarta Smart City ke depannya.

Hasil penelitian menyajikan sejumlah rekomendasi penting sebagai catatan berarti bagi Pemprov DKI maupun developer Jakarta Smart City. Selain memberikan dorongan pada warga inklusif (difabel maupun warga asing), penelitian merekomendasikan peningkatan layanan dan kualitas cara bekerja, peningkatan kapasitas pejabat publik, sosialisasi dan komunikasi melalui media sosial, pemberian mekanisme yang jelas terhadap data yang dihimpun, kemudahan akses data, evaluasi kebijakan privasi dari kanal atau aplikasi secara berkala, dan lain-lain.

Partners